Dalam zaman yang serba modern ini, berbagai macam polimer sudah
bukan hal yang asing bagi kehidupan manusia. Bahkan hampir mendominasi
kebutuhan dari setiap individu. Contohnya botol, plastic, bungkus makanan, jas
hujan, komponen otomotif, sheet film, salju buatan, gallon, Tupperware, lensa
kontak, popok bayi, pembalut wanita bahkan media tanam pengganti tanah dan
masih banyak lagi contoh-contoh dari polimer. Salah satu polimer terapan yaitu
Super absorbent Polimer. Super absorben polimer (SAP) adalah jaringan rantai
polimer tiga dimensi dengan ikatan silang ringan yang membawa dissosiasi gugus
fungsi ionik seperti asam karboksilat, karbokamida, hidroksil, amina, amida,
dan gugus lainnya. Sedangkan Hidrogel super absorben merupakan jaringan
hidrofilik dengan kapasitas penyerapan terhadap air yang tinggi. SAP hidrogel ini memiliki
sifat dasar dapat menyerap fluida lebih dari 15 kali berat keringnya sendiri,
bisa membengkak (swelling) karena meningkatnya entropi jaringan polimer
dan fluida yang telah diserap sukar untuk lepas dan hidrogel tersebut tidak
larut oleh solvasi molekul-molekul air melalui ikatan hidrogen karena adanya
gugus ionik alami dan struktur yang saling bersambungan (interconnected).
Hidrogel berbentuk Kristal-kristal kecil, yang tampak seperti butiran – butiran
kecil kwarsa sebelum jenuh dengan air, dan akan mirip cabikan jeli jernih bila
sudah menyerap air. (Ma et al. ,2012)
Gambar 1. Hydrogel
Faktor-faktor yang menyediakan tenaga untuk menyerap air adalah
tekanan osmotik, yang berdasar pada ion penukar yang dapat berpindah dan
afinitas antara polimer elektrolit dan air. Faktor yang menahan tenaga
penyerapan sebagai lawannya adalah adanya elastisitas gel hasil dari struktur jaringannya.
Karena karakteristiknya yang unggul maka hidrogel dipakai secara luas seperti
agrikultur, holtikultur, sanitary dan medis. Kemampuan gel yang
membengkak dan melepaskan air ke sekelilingnya secara terkendali telah
menjadikan material hidrogel dipakai untuk produk-produk pengendali kelembaban,
keperluan farmasi, dan sebagai pengkondisi tanah. (Andry et al.,2009)
Karakteristik lain dari hidrogel adalah sifatnya yang seperti
karet alam yang dapat digunakan untuk mengendalikan konsistensi produk dalam
bidang kosmetik, dan dipakai untuk memberi sifat-sifat yang berdampak segel untuk
produk-produk yang kontak dengan air atau larutan encer, seperti kawat dan
kabel bawah tanah. Jadi kapasitas penyerapan air atau water absorption
capacity (WAC) adalah karakteristik utama untuk hidrogel. Kapasitas air
yang terserap dapat diukur dengan metoda volumetrik gravimetrik, spektroskopik
dan gelombang mikro. Metoda volumetric mengukur perubahan volume SAP hidrogel
atau air sebelum dan sesudah penyerapan, metoda gravimetrik mengukur perubahan
berat SAP hidrogel, metoda spektroskopik mengukur perubahan spektrum UV dari
SAP hidrogel dan metoda gelombang mikro adalah mengukur penyerapan gelombang mikro
melalui perubahan energi. Pada tahap preparasi,
salah satu cara untuk mensintesa hidrogel
adalah melalui kopolimerisasi cangkok. Tipe hidrogel yang
paling banyak tersedia di pasar komersial adalah hidrogel yang disintesis
berbasis akrilamida dan asam akrilat yang dipreparasi melalui polimerisasi larutan (Kiatkamjornwong, S., 2007).
Hidrogel pertama kali dikembangkan oleh Departemen Pertanian AS pada 1960
dan dikomersialkan pertama kali pada 1970 dalam bentuk polimer berbasis pati /
akrilonitril / akrilamida dan diaplikasikan dalam agrikultur atau hortikultur
sebagai hidrogel untuk menahan kelembaban air pada tanah selama pertumbuhan dan
transportasi. Dalam perkembangannya, ikatan silang poliakrilat dan modifikasi
eter selulosa juga dikomersialkan pada 1982 di Jepang sebagai pati-cangkok poliakrilat
ikatan silang dengan karakteristik memiliki daya serap air yang tinggi. Pada
1985 penggunaan SAP hidrogel di Jepang diestimasi mencapai 12.000 metric ton.
Pada 2010 pasar SAP hidrogel di AS dan Eropa diproyeksikan mencapai 419.000 ton
dan di Asia-Pasific mencapai 207.000 metric ton.
DESKRIPSI
PROSES
1.
Sintesis Hidrogel
Asam
akrilat dipolimerisasi melalui mekanisme radikal dan memerlukan pemicu radikal
yang dapat larut-air. Suatu pemicu sering sangat peka terhadap keberadaan
oksigen dan memerlukan pengasingan dengan gas argon atau nitrogen. Oksigen
mengganggu polimerisasi karena bereaksi dengan tapak radikal (R. + O2 menghasilkan
radikal sedikit reaktif ROO.). Contoh pemicu termal yang mudah, dan dapat
larut-air dan berfungsi pada temperature rendah adalah VA-044. Bila pemicu ini
dipanaskan sekitar 40-45oC, akan mengurai untuk menghasilkan gas
nitrogen dan dua radikal dihasilkan, yang kemudian menginisiasi polimerisasi.
Dengan VA-044, polimerisasi lebih toleran dengan udara, mungkin karena radikal
dibangkitkan lambat pada waktu yang lama (waktu dekomposisi pada 44oC
adalah 10 jam), lebih efisien mengkonsumsi oksigen yang ada. Dalam hal lain,
konsentrasi inisiator yang sangat rendah (0,04 mol % relatif terhadap asam
akrilat) digunakan untuk mempromosikan pembentukkan rantai-rantai panjang.
Untuk
mengubah keadaan polimer sehingga tak dapat larut dalam air, rantai-rantai
harus tersambung-silang. Akan tetapi, kemampuan polimer untuk menggembung (swelling)
turun selagi derajat sambung-silang meningkat. Untuk itu, yang diharapkan bahwa
setiap rantai sepanjang mungkin dan tersambung-silang hanya di beberapa tempat.
Salah satu contoh penyambung-silang yang diperlukan sangat sedikit (sekitar
0,08 mol % relatif terhadap asam akrilat) adalah N,N’-metilenbisakrilamida atau
MBA. Zat ini mengandung dua ikatan rangkap yang reaktif, sehingga dapat tergabung
ke dalam dua rantai yang berbeda selagi polimerisasi berlangsung, sehingga
menghasilkan ikatan sambung-silang. Meskipun MBA memiliki gugus fungsional
amina, nampaknya sangat tahan terhadap hidrolisis. sintesis hidrogel dari
akrilamida (AM), asam akrilat (AA) dan kalium akrilat melalui polimerisasi
larutan pada konsentrasi monomer yang tinggi. Kalium persulfat (KPS) dan
natrium metabisulfit (SMBS) digunakan sebagai pemicu pasangan redoks. (Garner,
C.M., et al., 1997 : 95-99).
2.
Proses Pembuatan Hidrogel
Asam
akrilat sebanyak 2 mL dicampurkan dengan larutan KOH (dibuat dengan melarutkan
2 g KOH ke dalam 2 mL air) dalam keadaan dingin es. Larutan ini disebut larutan
A. Larutan B dibuat dengan mencampurkan larutan akrilamida (dibuat dengan melarutkan
0,2 g akrilamida ke dalam 2 mL air) ke dalam larutan MBA (dibuat dengan
melarutkan 0,02 g MBA ke dalam 1 mL air). Selanjutnya larutan A dan B
dicampurkan di dalam gelas kimia 600 mL yang dilengkapi dengan pengaduk magnet
dan thermometer untuk memonitor perubahan temperatur selama reaksi eksotermis. Larutan
kalium persulfat (dibuat dengan melarutkan 0,4 g kalium persulfat ke dalam 1 mL
air) dan larutan SMBS (dibuat dengan melarutkan 0,014 g SMBS ke dalam 1 mL air)
dimasukkan ke dalam campuran larutan A dan B tadi. Temperatur dan viskositas meningkat
dalam waktu 40 detik untuk mencapai titik gelasi. Pada titik ini temperatur
meningkat dengan cepat dan mengakibatkan penguapan pelarut. Produk seperti gel
transparan yang elastic kemudian dipotong-potong dikeringkan dalam oven pada suhu
700C selama 18 jam untuk mencapai berat konstan. (Agus Salim,2009)
APLIKASI
HIDROGEL
Aplikasi hidrogel saat ini banyak digunakan di
bidang agrikultur, holtikultur, sanitary dan medis. Contohnya di
bidang medis seperti penggunaannya sebagai bahan baku lensa kontak mata,
sedangkan di bidang agrikultur, digunakan sebagai media tanaman pengganti
tanah. Berikut ini penjelasan dari kedua contoh tersebut :
a. Lensa
Kontak Mata (Softlens Lunak).
Gambar 2. Lensa Kontak
Berbahan Hydrogel.
Lensa kontak adalah sejenis
plastik yang tipis dan berkurva yang direka untuk dipakai atas permukaan
kornea. Lensa kontak akan menempel pada lapisan air mata yang disebabkan oleh
tensi permukaan. Lensa kontak adalah salah satu cara yang efektif dan selamat
untuk mengoreksi gangguan refraktif selain kaca mata apabila digunakan dengan
cara yang benar dan pengawasan yang rapi. Selain untuk mengoreksi kelainan
refraksi, kelainan akomodasi, lensa kontak juga digunakan sebagai terapi dan
kosmetik. Lensa kontak biasanya mempunyai kegunaan yang sama dengan kacamata
konvensional atau kacamata biasa, tetapi lebih ringan dan bentuknya tak nampak
saat dipakai. (Http://netsains.net/2010/06/lensa-kontak-terinspirasi-oleh-monalisa/)
Menurut ahli Sejarah, ide lensa
yang menempel langsung pada bola mata sudah sejak tahun 1000 dan terdokumentasikan pada tahun
1508 dari sketsa tentang kacamata yang langsung bisa digunakan pada bola mata oleh
Leonardo Da Vinci. Versi lain sejarah softlens ditemukan oleh Rene Descartes
pada tahun 1632. Descartes membuat lensa yang dikenakan pada kornea mata dan
membuat gelas yang diisi air untuk menetralkan kekuatan kornea mata. 200 tahun
kemudian, ide awal Da Vinci dan Descartes terealisasikan oleh fisikawan bernama
Thomas Young dengan membuat tabung gelas berisi air yang memuat lensa yang
sangtat kecil. Pada tahun 1827, Sir John Herschel membuat lensa yang
dihaluskannya sendiri sehingga pas dipakai langsung pada permukaan mata.
Sehingga, penemuan John Herschel inilah yang menjadi sejarah penting bagi
perkembangan softlens sekarang ini. Baru pada tahun 1960-an, diluncurkan
softlens yang terbuat dari hydrogel yang lebih lembut dan dapat memungkinkan
pergantian oksigen di mata saat menggunakan softlens. Dan hingga kini, softlens
terus berkembang dari warna, motif dan variasinya. (Http://www.emveemag.com/article/110)
Ketebalan lensa kontak saat ini
sekitar 8-10 mm dan nyaman dipakai karena terapung pada selaput bening.
Permukaan belakang lensa kontak dibuat cembung kuat, flat dan normal agar dapat
menempel secara longgar pada permukaan. Pelonggaran ini berfungsi agar film air
mata dapat mudah masuk diantara lensa kontak, sehingga akan membawa oksigen ke
selaput bening.
Sebenarnya,softlens tidak hanya
terbuat dari hydrogel, ada juga softlens yang terbuat dari silicon akrilat yang
biasa disebut lensa kontak RGP (Rigid Gas Permeable). Lensa ini dapat tembus
gas oksigen dan karbondiokasida, yang dapat memberikan penglihatan yang tajam
tetapi kelenturannya kurang sehingga perlu penyesuaian pada selaput bening dan
sering terasa kelilipan. Beda halnya pada softlens lunak (berbahan hydrogel)
yang bersifat lentur dan mudah mengikuti kelengkungan selaput bening (flexible)
namun penglihatannya kurang tajam karena sifatnya yang mudah menyerap air,
sehingga mudah menjadi tidak bening.
Penggunaan softlens lunak secara
tidak benar dapat mengakibatkan alergi. Lensa kontak yang memiliki kadar air
tinggi, daya hantar oksigennya lebih bagus disbanding yang berkadar air rendah.
Tetapi, semakin tinggi kadar airnya, akan lebih mudah menimbun lemak, protein,
dan kotoran yang berasal dari air mata yang menempel softlens, sehingga tak
bisa lagi hanya dibersihkan dengan cairan perawatan. Reaksi alergi juga dapat
disebabkan karena masuknya benda pembawa alergi (debu/serbuk) kedalam mata.
Alergi ini diindikasikan dengan rasa gatal, mata merah, dan pembengkakan di
kelopak mata. Hal ini dapat dihindari dengan mengompres mata menggunakan air
dingin, atau dengan memberinya obar anti
radang dan anti alergi (sesuai keterangan dokter).
Selain alergi, dapat juga
terinfeksi bakteri, jamur, protozoa, dan virus yang ditandai dengan mata merah,
kelopak mata lengket, air mata berlebihan, daya penglihatan berkurang dan
timbul noda pada kornea mata. Cara mengatasinya dengan mengompres mata dengan
air dingin, member air mata buatan, dan terapi antibiotic jika perlu.(Http://netsains.net/2010/06/lensa-kontak-terinspirasi-oleh-monalisa/)
b. Media
Tanaman.
Gambar 3. Media tanaman dari Hydrogel
Hidrogel saat ini
menjadi pilihan baru sebagai hidroponik untuk tanaman. Media tanam memegang
peranan penting untuk suksesnya bercocok tanam system hidroponik. System
hidroponik adalah uapaya memberikan bahan makanan dalam larutan mineral atau
nutrisi yang diperlukan tanaman dengan cara disiram atau diteteskan.
Prinsipnya, media tanam tersebut harus memiliki sifat berongga untuk sirkulasi
uadar, mudah meyerap air, tidak cepat lapuk, akar mudah menempel, dapat
menyimpan zat hara, dan tidak mudah menjadi sumber penyakit. Dengan
perkembangan polimer, Hidrogel dipilih sebagai media tanam yang tepat pada
system ini yang memudahkan untuk proses pengairannya. Hidrogel ini dikembangkan
oleh ilmuwan jepang (anonym) sehingga fungsinya dapat digunakan sebagai
pengganti media tanam tanah yang mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman, aman,
non toxic, dan ramah lingkungan karena dapat terdaur ulang. Produk terbaru
hidrogel dikembangkan oleh insinyur polimer dari Universitas Waseda,Jepang,
Prof.Yuichi Mori, yang dinamakan dengan Sky Gel dan secara meluas telah
digunakan untuk taman-taman atap, rehabilitasi hutan, kultur jaringan,
hidroponik, dan aeroponik.
Tanaman yang cocok
menggunakan hydrogel sebagai media tanamnya adalah Daun Mutiara, Aglaonema,
Sirih Belanda, Paku-pakuan, Bambu China, serta tanaman pecinta air lainnya.
Tidak semua tanaman dapat tumbuh dengan baik didalam hidrogel. Cirri-ciri
tanaman yang dapat tumbuh adalah tanaman yang bersifat tahan kadar air
berlebih, tahan kelembaban tinggi, tidak berkayu, tanaman dalam ruang dan
umumnya tidak berbunga. Hydrogel juga dapat ditanami selada dan caisim. Tanaman
tersebut ditumbuhkan dahulu di arang sekam sampai berumur sebulan seblemu
dipindahkan kedalam hydrogel.
Berikut ini adalah cara
perawatan hidrogel pada media tanam, sebagai berikut :
i.
Bila sudah sekitar satu bulan, terlihat penyusutan
pada hydrogel, maka lakukanlah penyemprotan air dengan menggunakan handsprayer.
Jangan menggunakan terlalu banyak air karena akan mengakibatkan penggenangan
pada gelas dan dapat merusak akar.
ii.
Jangan terlalu sering direndam dalam air, cukup 1
kali sebulan agar tidak merusak daya kembang susut hydrogel, kecuali jika
hydrogelnya berlumut dan berbau, maka keluarkan hydrogel dari vas, dan bilas
dengan air hangat sampai lumutnya hilang.
iii.
Usia hydrogel 2 tahun, bila terjadi penyusutan bisa
direndam hingga mengembang dan dipakai kembali. Usia efekstifnya ±2 tahun, dan
usia warna hydrogel ±2 bulan.jika warnanya pudar, bisa diwarnai kembali dengan
pewarna kue dan lalu dibilas.
Sedangkan cara perawatan terhadap tanaman, sebagai
berikut :
i.
Tanaman sesekali disemprot pada daunnya saja.
Apabila daun kotor, maka bersihkan dengan tissue basah sampai mengkilat.
ii.
Apabila tanaman menguning, ada kemungkinan tanman
kekurangan cahaya matahari. Penanggulangannya : gelas/vas yang berisi hydrogel
ditutup lapisan gelap dan tidak tembus cahaya sampai terlihat tanamannya saja
untuk mencegah lumut pada hydrogel. Letakkan vas pada tempat yang terkena sinar
matahri langsung.
iii.
Jika akar tanaman terlihat membusuk, maka buang akar
tanaman yang membusuk. Cucilah tanaman sampai bersih.
iv.
Letakkan tanaman di ruangan dengan temperature yang
sejuk.
KESIMPULAN
·
Hidrogel
super absorben merupakan jaringan hidrofilik dengan kapasitas penyerapan
terhadap air yang tinggi yang bersifat dapat
menyerap fluida lebih dari 15 kali berat keringnya sendiri, bisa membengkak
karena meningkatnya entropi jaringan polimer dan fluida yang telah diserap
sukar untuk lepas dan hidrogel tersebut tidak larut oleh solvasi
molekul-molekul air melalui ikatan hidrogen karena adanya gugus ionik alami dan
struktur yang saling bersambungan.
·
Aplikasi hidrogel saat ini banyak digunakan di
bidang agrikultur, holtikultur, sanitary dan medis. Contohnya di
bidang medis seperti penggunaannya sebagai bahan baku lensa kontak mata
(softlens lunak) , sedangkan di bidang agrikultur, digunakan sebagai media
tanaman pengganti tanah.
·
Keunggulan
dari softlens berbahan hydrogel yaitu dapat memudahkan sirkulasi oksigen yang
masuk ke dalam selaput bening, selain itu sifatnya yang lentur dan nyaman
digunakan untuk mata. Softlens ini berfungsi untuk mengoreksi gangguan
refraktif selain kaca mata, kelainan akomodasi, dan juga sebagai terapi dan
kosmetik
·
Media tanam memegang peranan penting untuk suksesnya
bercocok tanam system hidroponik. Salah satunya dengan menggunakan hydrogel
sebagai media tanam yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman
DAFTAR
PUSTAKA
Andry,H., et al.
2009. Water retention, hydraulic conductivity
of hydrophilic polymers in sandy soilas affected by temperature and water
quality.Journal of Hydrology, 373: 177–183.
Garner, C.M.,
Nething, M., Nguyen, P. 1997. Synthesis of a Superabsorbentt Polymer. Journal
of Chemical Education, vol 74 No 1 : 95 – 96.
Http://netsains.net/2010/06/lensa-kontak-terinspirasi-oleh-monalisa/ ; diakses pada tanggal 17 april 2013, 06:21 WIB.
Http://www.emveemag.com/article/110 ; diakses pada
tanggal 17 april 2013, 06:51 WIB.
Http://www.hidrogelpelangi.com/2012/06/hidrogel-media-tanaman-cantik.html?m=1 ; diakses pada tanggal 17 april 2013, 06:43 WIB
Kiatkamjornwong,
S., 2007. Superabsorben Polymers and
Superabsorben Polymer Composites. Science
Asia 33 Supplement 1: 39-43.
Ma, Zuohao, et
al. 2010. Synthesis and characterization
of a novel super-absorbent based on wheat straw. Journal of Bioresource Technology,102 : 2853-2858.
Salim,Agus dan Suwardi. 2009. Sintesis
hidrogel superabsorben berbasis akrilamida dan asam akrilat pada kondisi
atmosfer . Jurnal Penelitian Saintek, Vol. 14,
No. 1: 1-16.
Keterangan : Pembuatan Hidrogel saat ini sudah berkembang pesat dengan penggunaan bahan yang berbeda-beda. Dalam tulisan saya ini, dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah polimer, dan mengacu dari berbagai sumber. jika dibutuhkan, sebaiknya cari sumber lain yang lebih terpercaya, misalnya dari jurnal-jurnal peneliti indonesia maupun internasional. Terima kasih.





cara bikinya gmna sih! n beli bahanya dmn.
BalasHapusUntuk membeli bahannya, bisa didapat di toko-toko bahan kimia. untuk pembuatannya,sudah dijelaskan di poin 2 (itu pembuatan skala laboratorium).
BalasHapus