(TUGAS TEKNOLOGI BAHAN)
Disusun oleh :
Alifatul Muyassaroh (3335110099)
Muhammad Rizky Fadhilah (3335111119)
Shafina Istiqomah (3335110629)
1.
Keramik
Keramik
adalah bahan padat non organik yang merupakan campuran metal dan non metal yang
terikat secara ionik dan kovalen. Keramik memiliki struktur organik dan non
organik seperti gelas tetapi kebanyakan memiliki struktur kristal. Struktur
mikro keramik selalu kompleks dan dibedakan oleh adanya batas butir (grain
boundaries), renik (pores), ketidakmurnian dan kondisi multifasa yang
membuatnya lebih bervariasi. Pada daerah batas butir energi bertambah sehingga
ketidakmurnian cenderung berkumpul di sana. Ketidakmurnian merupakan fasa kedua
dan ketiga, antara partikel penyusun (konstituen) ke dalam batas butir. Dengan
adanya penambahan ketidakmurnian dan zat aditif lainnya, mikrostruktur dapat
berubah, jika diamati pada batas butirnya maupun porositasnya. Kondisi
mikrostruktur ini menggambarkan keadaan terhadap sifat fisis dan kimia dari
keramik.
a. Keras,
kuat, tetapi bersifat getas atau mudah pecah.
b. Tahan
terhadap korosi.
c. Kapasitas
panas yang baik dan konduktivitas panas yang rendah.
d. Sifat
listriknya dapat menjadi isolator, semikonduktor, konduktor bahkan
superkonduktor.
e. Dapat
bersifat magnetik dan non magnetik
2.
Proses Pembuatan Keramik secara Umum
Material
keramik umumnya berupa senyawa polikristal yang proses pembuatannya dapat
dikelompokkan menjadi beberapa tahap yaitu: Preparasi serbuk, pembentukan,
pengeringan dan pembakaran (sintering). Pada proses pembentukan keramik terjadi
perubahan structural dari butiran-butirannya yang semula renggang menjadi padat
dan memiliki batas butiran (saat terjadi sintering).
a. Preparasi Serbuk
Pada
proses preparasi serbuk, beberapa factor yang menentukan sifat produk keramik
adalah : kemurnian bahan, homogenitas dan kehalusan serbuk. Teknik preparasi
serbuk keramik dapat dikelompokkan 3 macam yaitu : konvensional, kimia
basah/larutan dan preparasi dalam fasa gas. Salah satu diantaranya yang
diterapkan adalah teknik konvensional. Teknik ini berupa pencampuran
padat-padatan (solid-solid mixing) yang umumnya digunakan pada industri
keramik. Proses penghalusan dan homogenisasi dilakukan dengan alat penggiling
yaitu ball mill.
b. Proses Pembentukan
Sebelum
pembentukan, terlebih dahulu dilakukan pencampuran (mixing) untuk mendapatkan
campuran material bahan baku keramik dengan pengaturan komposisi dan ukuran butir
hingga homogen. Proses pencampuran ini dapat meningkatkan densitas dan
mengurangi porositas yang terdapat dalam keramik tersebut. Pada umumnya
pembentukan keramik dilakukan dengan pengadukan serbuk dengan air plastis,
selanjutnya dimasukkan kedalam cetakan sampai kering tertentu. Ada beberapa
proses atau cara pembentukan keramik, diantaranya:
1. Cetak
Tekan Kering (Dry Pressing)
Metode ini merupakan pembentukan
terhadap serbuk halus yang mengandung sedikit air atau penambahan bahan organik
dengan pemberian tekanan yang dibatasi oleh cetakan menjadi produk padat yang
kuat. Pada metode ini bahan (serbuk) dicampur dengan air (7-10 %) agar tetap
lembab sehingga menambah sifat plastis bahan. Proses pembentukan ini cocok
digunakan untuk membuat bentuk yang sederhana dan tebal sehingga banyak
digunakan oleh pabrik refraktori untuk menghaslkan produk-produk seperti ubin
lantai dan dinding.
2. Cetak
Dorong (Extrussion Molding)
Pembentukan keramik dengan metode ini
dilakukan untuk bahan yang memiliki plastisitas yang tinggi, dengan cara
mendorong bahan plastis (kadar air antara 12-20%) melalui ruang kosong sehingga
diperoleh bentuk dengan penampang melintang yang tetap. Metode ini digunakan
pada pembentukan batu bata, pipa, dan tegel berlubang.
3. Cetak
Tekan dengan Karet (Rubber Mold Pressing)
Pembentukan terhadap serbuk halus dengan
menggunakan pembungkus yang terbuat dari karet serta diberi tekanan ke
keseluruh permukaan karet, dan menghasilkan bahan yang padat.
4. Cetak
Tuang (Slip casting)
Pembentukan dengan cara suatu suspensi
dengan kekentalan dan kandungan padatan tertentu, kemudian dituang kedalam
cetakan plaster berpori-pori cair atau cetakan penyerap yang biasanya disebut
gips. Pada penelitian ini diterapkan proses pembentukan dengan cara cetak tekan
kering (dry pressing).
c. Pengeringan
Pada
umumnya, pengeringan zat padat berarti pemisahan sejumlah kecil air atau zat
cair lainnya dari bahan padat, sehinnggga mengurangi kandungan sisa zat cair di
dalam zat padat tersebut. Proses ini harus dikontrol, karena melibatkan
penekanan yang diakibatkan oleh perbedaan shrinkage atau tekanan gas dapat
menyebabkan cacat pada produk yang dihasilkan. Pada sistem pengeringan, energi
panas harus melewati permukaan produk, yang selanjutnya akan menghasilkan uap
air. Selama pengeringan, pemanasan akan meningkatkan tekanan uap air dari
cairan dan kapasitas penyerapan dari udara kering.
Benda-benda
yang akan dibakar harus dikeringkan terlebih dahulu, karena jika masih basah,
kemungkinan akan terjadi ledakan uap air sewaktu dibakar, sehngga dapat terjadi
keretakan. Mengeringkan benda keramik berarti menghilangkan apa yang disebut
air plastisnya saja, sedangkan air yang terikat dalam molekul bahan keramik
(air kimia) hanya dapat dihilangkan melalui pembakaran. Proses pengeringan
dapat juga diikuti dengan proses penyusutan.
Kerusakan
seperti cacat/retak dapat terjadi pada saat pengeringan karena pencampuran
bahannya yang tidak homogen dan pengeringan yang tidak sama pada
bagian-bagiannya. sehingga terjadi tegangan-tegangan antara bagian-bagian
tersebut. Permukaaan yang retak tersebut menunjukkan permukaaan bahan yang
rapuh. Kelebihan kadar air dapat juga membuat permukaan produk menjadi
lengkung, retak dan keporiannya meningkat. Lengkungan dihasilkan oleh
pengeringan yang tidak merata dan terjadi penyusutan sehingga bentuknya
berubah.
d. Pembakaran dan Sintering
Pembakaran
adalah suatu perlakuan yang utama dalam pembuatan bahan keramik. Tujuan dari
pembakaran ini adalah untuk mengaglomerasi partikel kedalam bentuk massa koheren
melalui proses sintering. Sintering adalah pengikatan massa partikel pada
serbuk oleh atraksi molekul dalam bentuk padat dengan perlakuan panas dan
menyebabkan kekuatan pada massa serbuk. Faktor-faktor yang menentukan proses
dan mekanisme sintering antara lain jenis bahan, komposisi, bahan pengotornya
dan ukuran partikel. Proses sintering dapat berlangsung apabila :
1. Adanya
transfer materi diantara butiran yang disebut proses difusi.
2. Adanya
sumber energi yang dapat mengaktifkan transfer materi, energi tersebut
digunakan untuk menggerakkan butiran hingga terjadi kontak dan ikatan yang
sempurna.
Difusi
adalah aktivitas termal yang berarti bahwa terdapat energi minimum yang
dibutuhkan untuk pergerakan atom atau ion dalam mencapai energi yang sama atau
di atas energi aktivasi untuk membebaskan dari letaknya semula dan bergerak ke
tempat yang lain yang memungkinkannya. Pada proses sintering keramik ada
bebrapa tahapan yaitu :
Tahapan
awal : partikel-partikel keramik saling kontak satu dengan yang lainnya setelah
proses pencetakan.
Tahapan
mulai sintering : pada tahapan ini sintering mulai berlangsung dan permukaan
kontak kedua partikel semakin lebar. Perubahan ukuran butiran maupun pori belum
terjadi.
Tahapan
pertengahan sintering : pori-pori dan ukuran butiran mulai membesar.
Tahapan
akhir sintering : pada tahapan ini batas butir bergerak dan terjadi pembesaran
ukuran butiran dan sekaligus terjadi penyusutan.
3. Keramik Putih
Keramik
putih (whiteware ) adalah nama yang umum diberikan untk sejenis keramik yang
biasanya berwarna putih dan berstruktur (jaringan ) halus Keramik ini dibuat
dari bahan dasar lempung kualitas terpilih dan fluks dalam jumlah bervariasi
yang dipanaskan pada suhu yang cukup tinggi ( 1200 sampai 15000C )
didalam tanur (klin). Oleh karena jumlah ada macam fluks yang beragam, terdapat
pula keragaman dalam tingkat vitrifikasi di antara keramik putih ini, mulai
dari keramik tanah sampai keramik cina kekaca. Keramik Putih dibagi menjadi
beberapa golongan, yaitu :
a.
Keramik
tanah ( carthenware) , kadang – kadang disebut barang pecah – belah semi kekaca
( semivitreous dinerware) adalah keramik berpori dan tidak translusen dengan
glasir lunak.
b.
Keramik
– cina ( chinaware), Keramik vitrifikasi translusen dengan glasir keras yang tahan abrasi
tertentu dinggunakan ntuk tugas nonteknik.
c.
porselin
( porcelain), keramik
virtifikasi transullen dengan glasir keras yang tahan abrasi pada tingkat
maksimum. Dalam kelompok ini termasuk porselin kimia , isolasi dan dental
(pergigian )
d.
Keramik
– saniter ( sanitary ware), Dulu terbuat dari lempung, biasanya berpori oleh
karena itu sekarang menggunakan komposisi kekaca. Kadang – kadang bersama
komposisi triaksial ditambahkan juga grog kekaca ukuran tertentu yang telah
menggalami pembakaran pendahuluan.
e.
Keramik
– batu ( stone ware), Adalah jenis yang tertua di antar barang keramik, yang telah jauh digunakan
sebelum porselin, bahkan keramik ini dapat dianggap sebagai porselin kasar yang
pembuatannya tidak dilakukan dengan teliti dan terbuat dari bahan baku bermutu
rendah.
f.
Ubin
keramik – putih( whiteware tile ), Terdapat dari berbagai jenis khusus,
biasanya dikelompokkan atas ubin lantai yang tahan atas abrasi dan kedap
terhadap peresapan noda, ada yang diglasir, ada yang tidak dan ubin dinding
yang juga mempunyai permukaan keras dan permanent dengan berbagai macam warna
dan tekstur.
4. Pembuatan
Keramik Putih
Bahan dasar pembuatan
keramik putih yaitu kaolin ataupun ball clay.
a.
Kaolin, adalah jenis lempung yang
mengandung mineral kaolinit dan terbentuk melalui proses pelapukan. Kaolin
merupakan jenis tanah liat primer digunakan sebagai bahan utama dalam pembuatan
keramik putih, dan mengandung mineral kaolinit sebagai bagian yang terbesar,
sehingga kaolin biasanya disebut sebagai lempung putih. Kaolin adalah bahan
keramik yang harus dicampur dengan bahan lainnya, misalnya ball clay. Hal ini
dilakukan untuk menambah keplastisan dan mengurangi ketahanan api karena bahan
ini bersifat kurang plastis dan sangat tahan api. Hal ini karena adanya
sifat-sifat kaolin seperti kehalusan, kekuatan, warna, daya hantar listrik dan
panas yang rendah, dan lain-lain. Titik
lelehnya lebih kurang 1800°C. Selain digunakan sebagai bahan dasar pembuatan
keramik putih, Kaolin juga digunakan untuk membuat gerabah, porselin dan tegel. Berikut ini Sifat dan keadaan bahan dari
kaolin :
·
Berbutir kasar
·
Rapuh dan tidak plastis jika
dibandingkan dengan lempung sedimenter,karena sulit dibentuk
·
Warna putih karena kandungan besi paling
rendah
b.
Ball Clay, adalah lempung yang sangat
plastis untuk keramik .mengapa disebut ball clay ,karena pada mulanya lempung
ini dijual dalam bentuk bola – bola.lempung ini termasuk lempung sekunder (
lempung sedimenter ). Sifat dan keadaan bahan :
·
Berbutir sangat halus
·
Sangat plastis
·
Kuat kering tinggi
·
Susut kering dan susut bakar tinggi
·
Unsur besinya lebih tinngi dari kaolin
karena warna bakarnya abu - abu muda
·
Warna mentahnya abu_abu /kehitam
–hitaman karena banyak mengandung karbon .
Ball
clay pada umumnya dipakai dalam keramik putih /keramik halus dan dalam
email,untuk:
1. Memperoleh
keplastisan hingga mempermudah pembentukan ,tapi mengurangi sifat tembus cahaya
( tidak translucent) karenanya jarang dipakai untuk pembuatan mase porselen
keras
2. Memberi
kekuatan kepada barang – barang sebelum dibakar,sehigga tidak mudah dirusak
bila diangkat.
3. Mebuat
mase tuang lebih encer ,meskipun airnya tidak banyak .
5. Kegunaan
dan Bahaya Keramik Putih
Keramik
putih banyak digunakan dalam berbagai bidang terutama dalam bidang konstruksi
dan rumah tangga. Pada umumnya keramik banyak dipakai sebagai peralatan rumah
tangga seperti periuk, belanga, kendi dan berbagai jenis gerabah lainnya.
Selain itu banyak pula yang menggunaannya sebagai barang-barang seni dan
dekorasi, misalnya guci, vas bunga, piring dan gelas hias. Bahan-bahan bangunan
juga banyak yang terbuat dari keramik seperti batu bata, tegel, ubin dan
sebagainya
Namun,
dibalik itu semua, terdapat bahaya yang terkandung didalamnya. Semakin putih
keramik, semakin tinggi bahaya radioaktif yang dikandungnya. Semakin tinggi
bahaya radioaktif, maka kian membahayakan penghuni rumah, terutama kesehatan
kulit.
Yang
perlu diperhatikan adalah batasan putihnya keramik. Semakin putih batasan putih
keramiknya, maka keramik banyak mengandung zirconium. Zirconium adalah
salah satu mineral non logam, dalam unsure Zr. ini bisa memberi efek
buruk, karena dalam jangka waktu panjang bisa menyebabkan kanker kulit.
Selain
keramik, di industri kimia zirconium banyak digunakan sebagai getter
atau penyerap dalam tabung vakum, sebagai agen pencampur logam dalam baja,
peralatan bedah, primer peledak, filamen bola lampu pijar dan rayon spinnerets.
Untuk itu, ada baiknya lebih berhati-hati dengan penggunaan keramik yang
mengandung zat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar