Dalam menganalisa
suatu senyawa dalam hal ini adalah obat dapat digunakan analisis secara kuantitatif (penetapan
banyak suatu zat tertentu yang ada dalam sampel) dan analisis secara kualitatif
(identifikasi zat-zat dalam suatu sampel). Intinya tujuan analisis secara
kualitatif adalah memisahkan serta mengidentifikasi sejumlah unsur (Day &
Underwood, 1981).
Diantara sekian
banyak contoh teknik atau cara dalam analisis kuantitatif terdapat dua cara
melakukan analisis dengan menggunakan senyawa pereduksi iodium yaitu secara
langsung dan tidak langsung. Cara langsung disebut iodimetri (digunakan larutan
iodium untuk mengoksidasi reduktor-reduktor yang dapat dioksidasi secara
kuantitatif pada titik ekivalennya). Namun, metode iodimetri ini jarang
dilakukan mengingat iodium sendiri merupakan oksidator yang lemah. Sedangkan
cara tidak langsung disebut iodometri (oksidator yang dianalisis kemudian
direaksikan dengan ion iodida berlebih dalam keadaan yang sesuai yang
selanjutnya iodium dibebaskan secara kuantitatif dan dititrasi dengan larutan
natrium thiosilfat standar atau asam arsenit) (Bassett, 1994).
Dengan kontrol pada titik akhir titrasi jika kelebihan 1 tetes titran. perubahan warna yang terjadi pada larutan akan semakin jelas dengan penambahan indikator amilum/kanji (Svehla, 1997).
Iodium merupakan
oksidator lemah. Sebaliknya ion iodida merupakan suatu pereaksi reduksi yang
cukup kuat. Dalam proses analitik iodium digunakan sebagai pereaksi oksidasi
(iodimetri) dan ion iodida digunakan sebagai pereaksi reduksi (iodometri).
Relatif beberapa zat merupakan pereaksi reduksi yang cukup kuat untuk dititrasi
secara langsung dengan iodium. Maka jumlah penentuan iodometrik adalah sedikit.
Akan tetapi banyak pereaksi oksidasi cukup kuat untuk bereaksi sempurna dengan
ion iodida, dan ada banyak penggunaan proses iodometrik. Suatu kelebihan ion
iodida ditambahkan kepada pereaksi oksidasi yang ditentukan, dengan pembebasan
iodium, yang kemudian dititrasi dengan larutan natrium thiosulfat (Day &
Underwood, 1981).
Metode titrasi
iodometri langsung (iodimetri) mengacu kepada titrasi dengan suatu larutan iod
standar. Metode titrasi iodometri tak langsung (iodometri) adalah berkenaan
dengan titrasi dari iod yang dibebaskan dalam reaksi kimia (Bassett, 1994).
Larutan standar
yang digunakan dalam kebanyakan proses iodometri adalah natrium thiosulfat.
Garam ini biasanya berbentuk sebagai pentahidrat Na2S2O3.5H2O. Larutan tidak boleh distandarisasi dengan
penimbangan secara langsung, tetapi harus distandarisasi dengan standar primer.
Larutan natrium thiosulfat tidak stabil untuk waktu yang lama (Day &
Underwood, 1981).
Tembaga murni
dapat digunakan sebagai standar primer untuk natrium thiosulfat dan dianjurkan
apabila thiosulfat harus digunakan untuk penentuan tembaga. Potensial standar
pasangan Cu(II) – Cu(I),
Cu2+ + e ?
Cu+ Eo= +0.15 V
(Day &
Underwood, 1981).
Karena harga E°
iodium berada pada daerah pertengahan maka sistem iodium dapat digunakan untuk
oksidator maupun reduktor. I2 adalah oksidator lemah sedangkan iodida secara relatif merupakan reduktor
lemah. Jika Eo tidak bergantung pada pH (pH < 8.0) maka persamaan reaksinya
I2 (s) + 2e- ? 2I- Eo= 0.535 V
I2 adalah oksidator lemah sedangkan iodida secara
relatif merupakan reduktor lemah. Kelarutannya cukup baik dalam air dengan
pembentukan triodida [KI3].
I2 (s) + 2e- ? 2I- Eo= 6.21 V
Dengan demikian
iodium Eo=
+ 0.535 V merupakan pereaksi yang lebih baik daripada ion Cu(II). Akan tetapi
bila ion iodida ditambahkan pada suatu larutan Cu(II), maka suatu endapan CuI
terbentuk
2Cu2+ + 4I- ?
2CuI(p) + I2
Reaksi dipaksa
berlangsung ke kanan dengan pembentukan endapan dan juga dengan penambahan ion
iodida berlebih (Day & Underwood, 1981).
pH larutan harus
dipertahankan oleh suatu buffer, lebih baik antara 3 dan 4. Pada harga pH lebih
tinggi hidrolisa sebagian dari ion Cu(II) berlangsung dan reaksi dengan ion
iodida adalah lambat. Dalam larutan berasam tinggi oksidasi dengan katalis
tembaga dari ion iodida terjadi dengan kecepatan cukup tinggi (Day &
Underwood, 1981).
Iodium dapat
dimurnikan dengan sublimasi. Ia larut dalam larutan KI dan harus disimpan pada
tempat yang dingin dan gelap. Berkurangnya iodium dan akibat penguapan dan
oksidasi udara menyebabkan banyak kesalahan dalam analisis. Dapat
distandarisasi dengan Na2S2O3.5H2O yang lebih dahulu distandarisasi dengan K2Cr2O7. Reaksi :
Cr2O72- + 14H+ + 6I- ? 3I2 +2Cr3+ + 7H2O
Biasanya indikator
yang digunakan adalah kanji/amilum. Iodida pada konsentrasi < 10-5 M dapat dengan mudah ditekan oleh amilum.
Sensitivitas warnanya tergantung pada pelarut yang digunakan. Kompleks
iodium-amilum mempunyai kelarutan kecil dalam air sehingga biasanya ditambahkan
pada titik akhir reaksi (Khopkar, 2002).
Warna larutan 0,1
N iodium adalah cukup kuat sehingga dapat bekerja sebagai indikatornya sendiri.
Iodium juga memberikan warna ungu atau merah lembayung yang kuat kepada
pelarut-pelarut seperti karbon tetraklorida atau kloroform dan kadang-kadang
hal ini digunakan untuk mengetahui titik akhir titrasi. Akan tetapi lebih umum
digunakan suatu larutan (dispersi koloidal) kanji, karena warna biru tua dari
kompleks kanji-iodium dipakai untuk suatu uji sangat peka terhadap iodium.
Kepekaan lebih besar dalam larutan yang sedikit asam dari pada dalam larutan
netral dan lebih besar dengan adanya ion iodida (Day & Underwood, 1981).
Jika larutan
iodium dalam KI pada suasana netral maupun asam dititrasi dengan natrium
thiosulfat maka:
I3- + 2S2O32- ? 3I- + S4O62-
Selama reaksi zat
antara S2O32- yang tidak berwarna adalah terbentuk
sebagai
S2O32- + I3- ? S2O3I- + 2I-
Yang mana berjalan
terus menjadi:
S2O3I- + S2O32-? S4O62- +I3-
Reaksi berlangsung
baik dibawah
pH = 5,0 (Khopkar, 2002).
Zat-zat pereduksi yang kuat (zat-zat potensial reduksi yang
jauh lebih rendah), seperti timah(II)klorida, asam sulfat, hidrogen sulfida,
dan natrium thiosulfat, bereaksi lengkap dan cepat dengan iod, bahkan dalam
larutan asam. Dengan zat pereduksi yang lemah misalnya arsen trivalen, atau
stibium trivale, reaksi yang lengkap hanya akan terjadi bila larutan dijaga
tetap netral atau, sangat sedikit asam; pada kondisi ini, potensial reduksi
adalah minimum, atau daya mereduksinya adalah maksimum (Bassett, 1994).
Jika suatu zat pengoksid kuat diolah dalam larutan netral
atau (lebih biasa) larutan asam, dengan ion iodida yang sangat berlebih, yang
terakhir bereaksi sebagai zat prereduksi, dan oksidan akan direduksi secara
kuantitatif. Dalam hal-hal yang
demikian, sejumlah iod yang ekivalen akan dibebaskan, lalu dititrasi dengan
larutan standar suatu zat pereduksi, biasanya natrium thiosulfat (Bassett,
1994).
Potensial reduksi
dari zat-zat tertentu naik banyak sekali dengan naiknya konsentrasi
ion-hidrogen dari larutan. Inilah halnya dalam sistem-sistem yang mengandung
permanganat, dikromat, arsenat, antimonat, borat dan sebagainya yakni, dengan
anion-anion yang mengandung oksigen dan karenanya memerlukan hidrogen untuk
reduksi lengkap. Banyak anion pengoksid yang lemah direduksi lengkap oleh ion
iodida, jika potensial reduksi merekanaik banyak sekali karena adanya jumlah
besar asam dalam larutan (Bassett, 1994).
Dua sumber sesatan
yang penting dalam titrasi yang melibatkan iod adalah:
1.
Kehilangan
iod yang disebabkan oleh sifat mudah menguapnya yang
cukup berarti, dan
1.
Larutan
iodida yang asam dioksidasi oleh oksigen di udara:
4I- + O2 + 4H+ ? 2I2 + 2H2O
Reaksi diatas
lambat dalam larutan netral tetapi lebih cepat dalam larutan berasam dan dipercepat
oleh cahaya matahari. Setelah penambahan kalium iodida pada larutan berasam
dari suatu pereaksi oksidasi, larutan harus tidak dibiarkan untuk waktu yang
lama berhubungan dengan udara, karena iodium tambahan akan terbentuk oleh
reaksi yang terdahulu. Nitrit harus tidak ada, karena akan direduksi oleh ion
iodida menjadi nitrogen (II) oksida yang selanjutnya dioksidasi kembali menjadi
nitrit oleh oksigen dari udara:
2HNO2 + 2H+ +
2I- ? 2NO + I2 + 2H2O
4NO + O2 + 2H2O
? 4HNO2
Kalium iodida harus bebas iodat karena
kedua zat ini bereaksi dalam larutan berasam untuk membebaskan iodium:
IO3- + 5I- + 6H+ ? 3I2 + 3H2O
(Day &
Underwood, 1981).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar