TUGAS
TEKNOLOGI BESI BAJA
Disusun oleh :
Shafina
Istiqomah (3335110629)
1. Pembuatan
Baja
Besi kasar adalah hasil
pengolahan dari bijih besi dengan melalui beberapa proses. Proses awal adalah
dengan mengurangi senyawa-senyawa dan zat-zat lain yang terkandung dalam bijih
besi dengan tahap, yaitu : dibersihkan, dipecah-pecah dan digiling sampai menjadi
halus, sehingga partikel besi dapat dipisahkan dari bahan yang tidak diperlukan
dengan menggunakan magnit dan dibentuk menjadi “pellet” (bulatan-bulatan kecil)
dengan diameter + 14 mm. Untuk memudahkan dalam pembentukan “pellet” maka
ditambahkan tanah liat, sehingga dapat dirol menjadi bentuk bulat. Setelah
proses awal dilakukan, maka bijih besi diproses pada dapur tinggi. Dapur tinggi
mempunyai konstruksi yang cukup besar dengan ketinggian mencapai 100 meter.
Dinding luar terbuat dari baja dan bagian dalam dilapisi batu tahan api yang
mampu menahan temperatur tinggi. Pada bagian atas dapur tinggi terdapat corong
untuk memasukkan bahan baku, yaitu bijih besi, kokas dan batu kapur. Kokas
adalah batu bara yang telah diproses (disuling kering) sehingga dapat
menghasilkan panas yang tinggi. Batu kapur berfungsi untuk mengikat bahan-bahan
yang tidak diperlukan.
Proses pada dapur tinggi
adalah dengan meniupkan udara panas ke dalam dapur tinggi untuk membakar kokas
dengan temperatur + 2000oC. Cairan besi dan terak akan turun ke dasar dapur
tinggi secara perlahan-lahan dan selanjutnya dituang ke kereta khusus. Hasil
ini disebut besi kasar, yang kemudian dapat diproses lebih lanjut menjadi baja.
Besi kasar dari hasil proses dapur tinggi, kemudian diproses lanjut untuk
dijadikan berbagai jenis baja. Ada beberapa proses yang dilakukan untuk merubah
besi kasar menjadi baja :
a.
Proses Konvertor
Terdiri dari satu tabung yang berbentuk
bulat lonjong dengan menghadap kesamping. Sistem kerja : Dipanaskan dengan kokas sampai ± 15000C,
Dimiringkan untuk memasukkan bahan baku baja. (± 1/8 dari volume konvertor), setelah
itu kembali ditegakkan. Udara dengan tekanan 1,5 – 2 atm dihembuskan dari
kompresor. Setelah 20-25 menit konvertor dijungkirkan untuk mengelaurkan
hasilnya
b.
Dapur Baja Oksigen (Proses Bassemer)
Proses Bessemer adalah proses untuk
produksi massa baja dari cair pig iron. Proses ini dinamai penemunya, Henry
Bessemer , yang mengeluarkan paten pada tahun 1855. Prinsip utama adalah
menghilangkan kotoran dari besi dengan oksidasi dengan udara yang ditiup
melalui besi cair. Oksidasi juga meningkatkan suhu massa besi dan menyimpannya
cair.
Converter Bessemer
Proses ini dilakukan dalam kontainer
baja bulat telur besar dilapisi dengan tanah liat atau dolomit disebut
konverter Bessemer. Kapasitas sebuah konverter 8-30 ton besi cair dengan muatan
yang biasa berada di sekitar 15 ton. Dibagian atas konverter merupakan
pembukaan, biasanya miring ke sisi relatif terhadap tubuh kapal, dimana besi
diperkenalkan dan produk jadi dihapus. Bagian bawah ini berlubang dengan
sejumlah saluran yang disebut tuyères melalui udara dipaksa menjadi konverter.
Konverter ini diputar pada trunnions sehingga dapat diputar untuk menerima
tuduhan, berbalik tegak selama konversi dan kemudian diputar lagi untuk
menuangkan baja cair di akhir.
Oksidasi
Proses oksidasi menghilangkan pengotor
seperti silikon, mangan dan karbon sebagai oksida yang akan membentuk gas
ataupun terak padat. Lapisan tahan panas konverter juga memainkan peran dalam
lapisan tanah liat yang konversinya menggunakan dalam asam Bessemer, dimana ada
rendah fosfor dalam bahan baku. Dolomit digunakan ketika kandungan fosfor tinggi
di dasar Bessemer (kapur atau magnesit pelapis juga kadang-kadang digunakan
sebagai pengganti dolomit). Dalam rangka memberikan baja sifat yang diinginkan,
zat lainnya dapat ditambahkan ke baja cair saat konversi selesai adalah
spiegeleisen (karbon mangan paduan besi).
Mengelola proses
Ketika baja yang diperlukan sudah
terbentuk, itu dicurahkan ke dalam ladle dan kemudian ditransfer ke dalam
cetakan dan terak ringan yang tertinggal. Proses konversi yang disebut
"pukulan" dilakukan dalam waktu sekitar dua puluh menit. Selama
periode ini kemajuan oksidasi kotoran dapat dilihat atau dinilai oleh
penampilan dari api yang keluar dari mulut konverter. Penggunaan metode modern
fotolistrik pencatatan karakteristik nyala api telah sangat membantu blower dalam
pengendalian kualitas akhir produk. Setelah pukulan, logam cair recarburized ke
titik yang dikehendaki dan bahan paduan lainnya ditambahkan, tergantung pada
produk yang diinginkan.
c.
Proses Siemens Martin
Dapur baja terbuka (Siemens Martin) juga
merupakan dapur yang digunakan untuk memproses besi kasar menjadi baja. Dapur
ini dapat menampung baja cair lebih dari 100 ton dengan proses mencapai
temperatur + 1600oC; wadah besar serta berdinding yang sangat kuat
dan landai. Proses pembuatan dengan dapur ini adalah proses oksidasi kotoran
yang terdapat pada bijih besi sehingga menjadi terak yang mengapung pada
permukaan baja cair. Oksigen langsung disalurkan kedalam cairan logam melalui
tutup atas. Apabila selesai tiap proses, maka tutup atas dibuka dan cairan baja
disalurkan untuk proses selanjutnya untuk dijadikan bermacam-macam jenis baja
d.
Proses Basic Oxygen Furnace
Proses tanur oksigen basa (
Basix Oxygen Furnace, BOF) menggunakan besi kasar (65 – 85 %) yang dihasilkan
oleh tanur tinggi sebagai bahan dasar utama dicampur dengan besi bekas dan batu
kapur. Panas ditimbulkan oleh reaksi
dengan oksigen. Gagasan ini dicetuskan oleh Bessemer sekitar tahun 1800.
Logam cair dimasukkan ke ruang baker (dimiringkan lalu ditegakkan). Oksigen (±
1000) ditiupkan lewat Oxygen Lance ke ruang bakar dengan kecepatan tinggi.
(volume 55 m3 (99,5 %O2) tiap satu ton muatan) dengan
tekanan 1400 kN/m2, lalu ditambahkan bubuk kapur (CaO) untuk menurunkan kadar P
dan S. Keuntungan dari BOF adalah:
·
BOF
menggunakan O2 murni tanpa Nitrogen
·
Proses
hanya lebih-kurang 50 menit. Tidak perlu tuyer di bagian bawah
·
Phosphor
dan Sulfur dapat terusir dulu daripada karbon
·
Biaya
operasi murah
e.
Proses Dapur Listrik (Electical
Arc Furnace).
Proses ini menggunakan
proses peleburan pada temperatur tinggi dengan menggunkan busur cahaya
electrode dan induksi listrik. Panas yang dibutuhkan untuk pencairan baja
adalah berasal arus listrik yang disalurkan dengan tiga buah elektroda karbon
dan dimasukkan/diturunkan mendekati dasar dapur. Penggunaan arus listrik untuk
pemanasan tidak akan mempengaruhi atau mengkontaminasi cairan logam, sehingga
proses dengan dapur baja listrik merupakan salah satu proses yang terbaik untuk
menghasilkan baja berkualitas tinggi dan baja tahan karat (stainless steel).
f. Proses Dapur Kopel
Mengolah besi kasar kelabu
dan besi bekas menjadi baja atau besi tuang. Prosesnya dengan pemanasan pendahuluan agar bebas dari uap cair.
Bahan bakar(arang kayu dan kokas) dinyalakan selama ± 15 jam. Kokas dan udara
dihembuskan dengan kecepatan rendah hingga kokas mencapai 700 –
800 mm dari dasar tungku. Besi kasar dan baja bekas
kira-kira 10 – 15 % ton/jam dimasukkan, setelah 15 menit baja cair dikeluarkan
dari lubang pengeluaran. Untuk membentuk terak dan menurunkan kadar P dan S
ditambahkan batu kapur (CaCO3) . Gas CO yang
dikeluarkan melalui cerobong, panasnya dapat dimanfaatkan untuk pembangkit
mesin-mesin lain.
g. Proses Dapur Cawan
Proses kerja dapur cawan dimulai dengan memasukkan baja bekas dan besi
kasar dalam cawan,kemudian dapur ditutup rapat.Setelah itu dimasukkan gas-gas panas untuk memanaskan
sekeliling cawan dan muatan dalam cawan akan mencair. Baja cair tersebut siap
dituang untuk dijadikan baja-baja istimewa dengan menambahkan unsur-unsur
paduan yang diperlukan. Baja
yang dihasilkan oleh proses ini adalah Baja karbon & Baja paduan 0,1 % < c < 2,0 %.
Pembentukan baja adalah tahap lanjutan
dari proses pengolahan baja dengan berbagai jenis dapur baja.
Baja yang telah cair dan ditambah dengan campuran lain (sesuai dengan
kebutuhan/sifat-sifat baja yang diinginkan) dituang ke dalam cetakan yang
berlubang dan didinginkan sehingga menjadi padat. Batangan baja yang masih
panas dan berwarna merah dikeluarkan dari cetakan untuk disimpan sementara
dalam dapur bentuk kotak serta dijaga panasnya dengan temperatur 1100oC
- 1300oC menggunakan bahan bakar gas atau minyak. Penyimpanan
tersebut adalah untuk meratakan suhu sebelum dilakukan proses pembentukan atau
pengerolan. Proses pembentukan produk baja dilakukan dengan proses pengerolan.
Proses ini adalah dengan cara melewatkan baja
batangan diantara rol-rol yang berputar sehingga baja batangan tersebut menjadi
lebih tipis dan memanjang. Proses pengerolan ini dimaksudkan agar struktur
logam (baja) menjadi merata, lebih kuat dan liat, disamping membentuk sesuai
ukuran yang diinginkan, seperti pelat tebal (bloom), batangan (billet)
atau pelat (slab). Dari baja yang
berbentuk lembaran ini, dapat dihasilkan tinplate yang dapat digunakan sebagai
bahan baku pembuatan kaleng.
2. Pembuatan
Tin Plate
PT Latinusa merupakan satu satunya
industri yang bergerak dalam industri bahan baku kemasan kaleng atau yang lebih
dikenal dengan nama Tin Plate. Proses
pembuatan pelat timah menggunakan sistem Electrolyic Tinning Line (ETL) dengan bahan
bakunya berupa lembaran baja tipis yang dihasilkan dari pabrik baja yang
digiling tanpa pemanasan. Berikut ini pembuatan
Tinplate di perusahaan ini :
Tin mill black plate (TMBP) digulung didalam Pay off
reel. Lalu TMBP dibawa ke mesin Double cut shear sebagai persiapan proses
penyambungan TMBP. Setelah itu, gulungan coil TMBP disambungkan dengan gulungan
coil TMBP yang sudah lebih dulu diulur. Proses penyambungan
dilakukan dengan metode press welding dengan roda tembaga yang dialiri arus
listrik searah (Direct Current) dan pada setiap sambungan diberi tanda berupa
sebuah lubang. Strip TMBP disimpan didalam entry loop tower yang berfungsi
untuk memastikan bahwa seluruh proses berjalan secara berkelanjutan pada saat
penyambungan strip TMBP di welding machine. Selanjutnya tepi strip TMBP dipotong
untuk mendapatkan ukuran sesuai dengan pesanan pelanggan didalam Side Trimmer yang
terdiri dari dua buah pisau pemotong di sisi kiri dan kanan strip TMBP serta
sebuah Scrap Baller untuk menampung sisa potongan.
TMBP
dimasukkan kedalam cleaning unit untuk dibersihkan dari minyak, debu, minyak,
dan partikel-partikel lainnya yang tidak diinginkan. Proses ini terdiri dari 2
tahap dengan cairan kimiawi NaOH sebagai medianya yang kemudian dilanjutkan
dengan pembilasan menggunakan air yang disemprotkan dengan tekanan 8 bar. Unit
ini juga bermanfaat sebagai buffer untuk menjaga proses produksi terus
berlangsung selagi ada penghentian proses atau pemeriksaan kualitas produk.
Selanjutnya dikirim ke pickle unit untuk membersihkan oksida (karat) yang
mungkin masih menempel pada permukaan TMBP dan juga bertujuan untuk
mengkasarkan permukaan TMBP sehingga memudahkan pelapisan timah pada proses
selanjutnya. Dalam proses ini digunakan cairan konsentrat Asam Sulfat (H2SO4),
kemudian TMBP dibilas dengan air yang disemprotkan dengan tekanan 8 bar. Lalu
ke Plating Unit. Tahap ini
merupakan proses utama, dimana proses pelapisan timah dilakukan dengan sistem
elektrolisis menggunakan cairan konsentrat phenol suphonic acid. Setelah proses
pelapisan selesai dilakukan, maka dilanjutkan dengan proses pembilasan dengan
air lalu dikeringkan dengan udara panas bersuhu 140o C. Pelat yang
sudah dilapisi timah kemudian dipanaskan dengan menggunakan arus listrik.
Setelah dipanaskan, pelat tersebut kemudian didingkan secara tiba-tiba
(quenching) di dalam Quench Tank untuk mendapatkan permukaan tinplate yang
mengilap dan bersih. Kemudian dilakukan elektrolisis pada tinplate menggunakan
Na2Cr2O7 (Natrium Dicromate) yang bertujuan
untuk melapisi tinplate sehingga tidak mudah teroksidasi, berkarat dan
tergores. Kemudian, tinplate dibilas dan dikeringkan. Permukaan tinplate
kemudian dilapisi dengan minyak Dioctyl Sebacate untuk melindungi permukaan
tinlate dari kerusakan gores pada proses selanjutnya atau saat pengepakan.
3.
Pembuatan Kaleng
Lembaran tinplate ini dapat dibuat menjadi kaleng yang berbentuk hollow
(berlubang), atau flat can yaitu kaleng yang digepengkan baru kemudian
dibentuk kembali. Masalah dalam penggunaan kemasan tin plate sebagai bahan kemasan pangan adalah terjadinya migrasi
(perpindahan) logam berat yaitu Pb dan
Sn dari kaleng ke makanan yang dikemas.
Batas maksimum Sn yang diperbolehkan dalam bahan pangan adalah 200 mg/kg
makanan. Untuk mencegah terjadinya kontak langsung antara kaleng pengemas
dengan bahan pangan yang dikemas, maka kaleng plat timah harus diberi pelapis
yang disebut dengan enamel. Interaksi
antara bahan pangan dengan kemasan ini dapat menimbulkan korosi yang
menghasilkan warna serta flavor yang tidak diinginkan, misalnya :
·
Terbentuknya
warna hitam yang disebabkan oleh reaksi antara besi atau timah dengan sulfida
pada makanan berasam rendah (berprotein tingg).
·
Pemucatan
pigmen merah dari sayuran/buah-buahan seperti bit atau anggur karena reaksi
dengan baja, timah atau aluminium.
Secara umum proses pembuatan kaleng
terdiri dari printing/coating, slitting/shearing,
pressing dan assembly.
Printing dilakukan dengan tujuan untuk pembuatan : dekorasi dan
melindungi kaleng dari karat atau untuk mencegah reaksi antara tinplate dengan
bahan yang dikemas. Slitting / Shearing adalah proses memotong tinplate
menjadi body blank atau strip yang digunakan untuk pembuatan komponen-komponen
kaleng sesuai kebutuhan. Pressing adalah
proses pembuatan komponen-komponen kaleng seperti tutup atas / bawah atau body kaleng pada two pieces.
Jumlah proses pembuatan komponen tergantung dari bentuk kaleng yang akan
dibuat. Pada pembuatan tutup latex sebagai bahan pengisi sambungan body dengan
tutup membuat kaleng kedap udara. Assembly adalah proses menyatukan
badan dan tutup kaleng dengan menggunakan mesin-mesin soudronic, soldering atau
mesin lain. Pembuatan kemasan kaleng
dilakukan dengan menyambung lembaran plat timah hingga membentuk kaleng .
Proses penyambungan dilakukan dengan cara soldering (patri), cementing
dan welding. Soldering adalah
cara perekatan dengan panas pada metal solid (tin plate) dengan metalic
boundary agent dengan menggunakan fluks pada suhu 45o. Cementing
adalah perekatan dengan menggunakan bahan perekat berupa poliamida dan
polyester. Teknik cementing tidak tahan sterilisasi dan biasanya digunakan
untuk kaleng –kaleng minyak goreng. Urutan pembuatan kemasan kaleng dari plat
timah secara konvensional adalah sebagai
berikut :
o Pemberian lapisan enamel pada lembar plat timah
o Pencetakan disain grafis
o Pemotongan lembaran plat timah menjadi body blank yang disebut
proses slitting
o Pembentukan badan kaleng (body making)
o Pembentukan leher kaleng (necking) untuk beberapa jenis
kaleng
o Pembentukan body hood (flanging) untuk semua bentuk kaleng.
o Pembersihan permukaan dalam kaleng dengan menggunakan sikat dan
hembusan udara.
o Pelapisan enamel kedua (enamel ganda), yaitu untuk kaleng kemasan
minuman berkarbonasi. Proses pelapisan
enamel kedua ini dilakukan dengan cara pengabutan bahan pelapis (sprayed
coating).
o Pemasangan tutup kaleng dengan mesin seamer.
Tahap-tahap pembentukan kaleng ini :
a
Lembaran badan kaleng dengan sudut
bercelah
b
Lembaran
badan kaleng berkait
c
Pembentukan
silinder
d
Kaitan
didatarkan, dilas bagian luar dan dalam
e
Strip
bagian luar
f
Pembentukan
body hook (flanging)
g
Model
lipatan sambungan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar