Disusun oleh : Alif, Shafina, Vivi
BAB I
PENDAHULUAN
Pemeliharaan
kesehatan dan kecantikan tentunya tidak akan terlepas dari produk – produk
farmasi dan kesehatan, khususnya kosmetik yang sedang tren back to nature.
Oleh karena itu penggunaan bahan baku natural untuk kosmetik akan menjadi
pilihan utama dimasa depan, karena khasiat dan faktor keamanannya. Beruntung
Indonesia dianugrahi beranekaragam sumber daya hayati darat dan laut yang
terbesar di dunia serta ribuan etnis suku bangsa yang kaya akan ilmu
pengetahuan dan kearifan lokal di bidang pemanfaatan tanaman sebagai sumber
obat dan kosmetik (Rismana, dkk, 2014).
Jerawat (Acne
vulgaris) merupakan penyakit kulit yang umum diderita manusia dan umumnya
dapat diobati menggunakan sediaan antiacne
dengan bahan aktif berupa senyawa antibiotika. Sebagai alternatif sediaan untuk
mengatasi masalah antiacne dan efek negatif resistensi senyawa antibiotika maka
telah dibuat suatu sediaan antiacne berbahan aktif nanopartikel kitosan-ekstrak
garcinia mangostana.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Sehat
dalam arti luas adalah keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial. Kulit sehat
berarti kulit yang tidak menderita suatu penyakit, baik penyakit yang mengenai
kulit secara langsung ataupun penyakit dalam tubuh yang secara tidak langsung
mempengaruhi kesehatan kulitnya. Penampilan kulit sehat dapat dilihat dari
struktur fisik kulit berupa warna, kelenturan, tebal dan tekstur kulit.
Berbagai faktor yang mempengaruhi penampilan kulit sehat, misalnya umur, ras,
iklim, sinar matahari serta kehamilan. Kosmetik telah menjadi bagian kehidupan
manusia sejak zaman dahulu. Kosmetik berasal dari kata Yunani “kosmein” artinya
berhias. Kosmetik digunakan secara luas baik untuk kecantikan maupun untuk
kesehatan. Masyarakat di zaman Mesir Kuno sudah memanfaatkan merkuri pada abad
ke 18. Seiring berjalannya waktu, pemakaian kosmetik bertambah yaitu untuk
mempercantik diri, mengubah rupa, menutupi kekurangan dan menambah daya tarik
dengan keharuman kulit. Sesuai dengan perkembangan zaman, bentuk kosmetik
semakin praktis dan mudah digunakan. Bahan yang dipakai dalam kosmetik, dahulu
diramu dari bahan-bahan alami yang terdapat disekitarnya, tetapi sekarang
kosmetik dibuat manusia tidak hanya dari bahan alami tetapi juga bahan sintetik
untuk maksud meningkatkan kecantikan. Keinginan manusia untuk menjadi cantik
ataupun tampan adalah faktor utama yang mendorong manusia menggunakan kosmetik
(Polii, dkk).
Pengertian
kosmetik dan bentuk-bentuk kosmetik menurut beberapa ahli kosmetologi dan
peraturan antara lain : (i) menurut Jellinex, kosmetologi adalah ilmu
pengetahuan yang mempelajari hukum-hukum kimia, fisika, biologi dan
mikrobiologi tentang pembuatan, penyimpanan dan penggunaan bahan kosmetika,
(ii) Menurut Peraturan Menteri Kesehatan R.I. No.220/Men Kes/Per/IX/76,
kosmetika adalah bahan atau campuran bahan untuk digosokkan, dilekatkan,
dituangkan, dipercikkan atau disemprotkan, dimasukkan dan dipergunakan pada
badan manusia dengan maksud untuk membersihkan, memelihara, menambah daya tarik
dan mengubah rupa dan tidak termasuk golongan obat. Zat tersebut tidak boleh
mengganggu faal kulit atau kesehatan tubuh secara keseluruhan, (iii) Lubowe
mengemukakan istilah Cosmedics disusul oleh Faust dengan istilah Medicated
Cosmetics untuk bentuk gabungan dari kosmetika dan obat. Cosmedics adalah
kosmetika yang ke dalamnya ditambahkan bahan-bahan aktif tertentu seperti
zat-zat anti bakteri atau jasad renik lainnya, anti jerawat, anti gatal, anti
produk keringat, anti ketombe dan lain-lain dengan tujuan profilaksis,
desinfektan, terapi dan lain-lain, (iv) kosmetika hipoalergik adalah
kosmetika yang di dalamnya tidak mengandung zat-zat yang dapat menyebabkan reaksi
iritasi dan reaksi sensitasi. Kosmetika jenis ini bila dapat terwujud akan
merupakan kosmetika yang lebih aman untuk kesehatan kulit, (v) kosmetika
tradisional adalah kosmetika yang terdiri dari bahan-bahan yang berasal
dari alam dan diolah secara tradisional. Di samping itu, terdapat kosmetika
semi-tradisional, yaitu kosmetika tradisional yang pengolahannya dilakukan
secara modern dengan mencampurkan zat-zat kimia sintetik ke sediaannya.
Secara umum dari definisi tersebut diatas jelas menunjukkan bahwa
kosmetika bukan satu obat yang dipakai untuk diagnosis, pengobatan
maupun pencegahan penyakit (Rismana dkk, 2014).
Jerawat
(acne vulgaris) merupakan penyakit kulit yang banyak dialami oleh remaja
dan umumnya diakibatkan oleh adanya papula folikuler non–inflamasi, nodul,
pustule dan radang papula. Faktor – faktor penyebab terjadinya jerawat
diantaranya adalah karena meningkatnya produksi sebum, penyumbatan saluran
pilosebasea, kolonisasi bakteri di saluran pilosebasea serta proses inflamasi (Chomnawang
dalam rismana dkk, 2013). Secara alami dalam kulit normal terkandung beberapa
bakteri penyebab jerawat seperti Propionibacterium acnes, Propionibacterium
granulosum, Staphylococcus epidermidis serta Malassezia furfur, dan
jika kondisi memungkinkan bakteri tersebut dapat berproliferasi secara cepat
dan memicu tumbuhnya jerawat (Chomnawang dalam rismana dkk, 2014). Senyawa
kimia jenis antibiotik seperti clindamycin dan tetracyclin telah
lama digunakan untuk mengatasi jerawat, tetapi terkadang ada efek samping
berupa iritasi kulit dan gangguan kesehatan lainnya sehingga penggunaanya
dibatasi. Di sisi lain dengan semakin meningkatnya penggunaan bahan alam dalam
industri obat dan farmasi, maka penggunaan tanaman obat juga secara intensif
diteliti guna mencari bahan alternatif yang mempunyai aktivitas antibakteri,
khususnya terhadap Propionibacterium acnes (Rismana dkk, 2014).
Akhir-akhir ini para ahli mulai
berpaling untuk mencari obat jerawat dari bahan alam. Untuk optimasi pengobatan
terhadap jerawat, seyogyanya bentuk sediaan yang dipilih harus dapat menjadi
obat yang dapat dijadikan sebagai bahan pembantu tidak boleh menimbulkan
kecenderungan untuk munculnya jerawat-jerawat baru (Djajadisastra, 2009). Terdapat beberapa penelitian yang telah
menggunakan bahan alam yang dapat digunakan sebagai obat anti jerawat. Salah
satunya adalah ekstrak Daun Nerium oleander (Djajadisastra, 2009), getah buah pepaya (Anggraini dkk), sari buah
belimbing wuluh (Hasyim, 2011) dan ekstrak kulit manggis (rismana dkk, 2014).
2.2 Manggis
Manggis
(Garcinia mangostana) adalah tanaman tropis yang banyak ditemukan
di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Di Thailand, kulit manggis telah
digunakan sebagai obat untuk penyakit infeksi kulit, obat luka dan diare.
Senyawa utama dari manggis adalah derivat xanthon dan telah telah
diketahui mempunyai aktivitas antifungal (Gopalakrishnan dalam rismana
dkk, 2014), antimikroba (Suksamrarn dalam Rismana dkk, 2014), antioksidan (Moongkandi
dalam Pasaribu, 2012) dan sitotoksik. Bagian tanaman yang secara tradisional
sering dipakai dalam pengobatan tradisional (diare, disentri, eksim dan
penyakit kulit lainnya) adalah kulit buah. Kulit manggis yang dahulu hanya
dibuang saja ternyata menyimpan sebuah harapan untuk dikembangkan sebagai
kandidat obat (Nugroho). Kulit buah manggis juga mengandung senyawa
α-mangostin dan β-mangostin. Aktivitas biologi α-mangostin antara lain sebagai
antagonis kompetitif dari reseptor-H1 histamin, antibakteri terhadap
Helicobacter pylori, antiinflammasi, antimikroba terhadap Staphylococcus
aureus, antioksidan dan antiacne (Rismana dkk, 2014).
Kulit
buah manggis banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku produk pangan. Secara
turun-temurun, kulit buah manggis dimanfaatkan untuk mengobati atau mencegah
diare, disentri, dan sariawan. Kulit buah manggis bermanfaat bagi kesehatan
karena mengandung antosianin, tanin, senyawa fenol/polifenol, epikatekin, dan xanthone
. Xanthone merupakan senyawa organik dan mempunyai banyak turunan di
alam dan memiliki aktivitas antioksidan. Kulit buah manggis mengandung 14 jenis
turunan xanthone. Alfa-mangostin merupakan turunan xanthone yang
banyak terdapat pada kulit dan buah manggis. Alfa-mangostin memiliki kemampuan
menekan pembentukan senyawa karsinogen pada kolon. Dengan demikian, xanthone
yang terdapat pada kulit buah manggis bersifat antioksidan, antidiabetik,
antikanker, antiimflammatory, hepatoprotective, immuno-modulation,
aromatase inhibitor, antibakteri, juga bersifat fungsional lainnya.
Antosianin bermanfaat sebagai pewarna alami maupun antioksidan. Antosianin
memiliki kemampuan sebagai antioksidan dan dapat mencegah penyakit neuronal,
kardiovaskuler, kanker, dan diabetes. Kulit buah manggis mengandung vitamin B1,
B2, B6, dan C, serta senyawa pektin, tanin, dan resin. Senyawa-senyawa tersebut
sering dimanfaatkan sebagai bahan penyamak kulit dan zat pewarna hitam untuk
makanan dan industri tekstil. Sementara kulit buah manggis yang mengandung
getah kuning dimanfaatkan sebagai bahan baku cat dan insektisida. Tanin terdiri
atas berbagai asam fenolat yang mempunyai aktivitas antioksidan, menghambat
pertumbuhan tumor, dan menghambat enzim seperti reverse transkriptase
dan DNA topoisomerase. Tanin dengan protein membentuk senyawa kompleks dan
menyebabkan pengendapan protein. Fungsi tanin bagi kesehatan antara lain adalah
sebagai antioksidan dan relaksasi, yang secara klinis memiliki kemampuan
sebagai antidiare, hemostatik, dan antihemorod (Setyabudi, 2012).
2.3 Kitosan
Kitosan
merupakan polisakarida alam [β(1→4) glukosamin (2-amino-2-deoksi-d-glukosa) N-asetil-d-glukosamin
(2-asetamido-2-deoksi-dglukosa)] yang mulai banyak diaplikasikan dalam industri
farmasi, pangan dan kesehatan. Kitosan mempunyai beberapa sifat yang
menguntungkan yaitu bersifat anti mikroba, wound healing, tidak beracun,
murah, biokompatibel, dapat dibiodegradasi, serta larut air. Dalam bentuk mikro/nanopartikel
kitosan mempunyai banyak keunggulan yakni tidak toksik, stabil selama
penggunaan, luas permukaan yang tinggi, serta dapat dijadikan matriks untuk
berbagai jenis obat dan ekstrak tanaman. Oleh karena itu kitosan berpotensi
untuk digunakan sebagai bahan eksipien atau pembawa sekaligus bahan aktif dalam
suatu sediaan topikal antiacne (Rismana
dkk, 2014).
Nanopartikel
merupakan bahan dengan ukuran partikel pada skala nanometer. Beberapa bahan
nanopartikel dengan ukuran partikel di atas 100 nm telah berhasil disintesis
untuk produk yang berasal dari bahan alam antara lain untuk kurkumin,
paclitaxel dan praziquantel dengan ukuran partikel masing – masing adalah 450
nm, 147,7 nm, dan > 200 nm, sehingga
nanopartikel dapat juga didefinisikan sebagai sistem koloid submikronik (<1
μm). Beberapa penelitian pembuatan material nano juga dilakukan antara lain
oleh Dustgani (dalam Rismana dkk,
2014) melakukan penelitian tentang pembuatan nanopartikel kitosan
sebagai matriks penghantar untuk dexametason, Wu (dalam Rismana dkk, 2014) melakukan penelitian tentang pembuatan
nanopartikel kitosan sebagai matriks penghantar untuk glycyrrhizinate. Kim (dalam Rismana dkk, 2014) melakukan
penelitian tentang pembuatan nanopartikel kitosan sebagai matriks penghantar
retinol. Metode yang digunakan adalah dengan meneteskan vitamin A yang telah
didispersikan dalam etanol ke dalam larutan kitosan dalam air deionisasi di
dalam ultrasonikator yang berisikan es. Penelitian ini menggunakan kitosan
larut air sehingga tidak diperlukan penambahan asam asetat untuk melarutkan
kitosan. Nanopartikel kitosan-vitamin A yang terbentuk memiliki ukuran antara
80-208 nm. Wang (dalam Rismana dkk,
2014) melakukan penelitian tentang pembuatan nanopartikel kitosan
sebagai peningkat absorpsi sediaan nasal dan target organ otak untuk estradiol,
nanopartikel yang terbentuk memiliki distribusi ukuran 260 nm.
Aplikasi
teknologi nano dalam bidang farmasi mempunyai berbagai keunggulan antara lain
dapat meningkatkan kelarutan senyawa, mengurangi dosis pengobatan dan
meningkatkan absorbsi. Oleh karena itu, bahan nanopartikel banyak digunakan
pada sistem penghantaran obat terbaru pada berbagai bentuk sediaan kosmetik dan
dermatologikal. Sifat pembawa bahan nanopartikel mempunyai berbagai keuntungan
seperti mencegah hidrasi kulit, meningkatkan efek absorpsi, meningkatkan
penetrasi zat aktif dan bersifat lepas terkendali. Dengan sentuhan teknologi
nano diharapkan zat aktif akan mampu menembus lapisan dermis dari kulit.
Pemilihan produk perawatan wajah dan kosmetik yang baik harus mempunyai
kemampuan menembus lapisan kulit sampai ke lapisan dermis, karena pada lapisan
ini banyak pembuluh darah yang memberi nutrisi dan menjaga keseimbangan proses
regenerasi kulit. Kosmetik yang hanya mampu bekerja di lapisan epidermis tidak
banyak memperbaiki keadaan kulit wajah, karena bekerja di lapisan sel kulit
mati yang sudah pasti akan terangkat dalam hitungan hari. Selain itu lapisan
kulit terutama lapisan tanduk yang merupakan bagian dari lapisan epidermis
bersifat selektif dalam memilih senyawa-senyawa tertentu untuk dapat masuk ke
lapisan lebih dalam atau lapisan dermis, sehingga tidak semua produk perawatan
wajah memiliki senyawa yang mampu menembus lapisan ini. Adapun tujuannya adalah
untuk mengembangkan bahan aktif antiacne dengan ukuran nano yang berasal
dari bahan alam, khususnya kulit buah manggis dan kitosan. Diharapkan
penyediaan dan penggunaan nanopartikel kitosan - ekstrak kulit buah manggis
yang mensinergiskan efek wound healing
dari kitosan serta efek antibakteri dan antiinflamasi dari kulit buah manggis
yang diproses menggunakan teknologi nano akan memberikan efek penyembuhan
jerawat lebih baik. Selain itu bahan aktif nanopartikel ini diharapkan dapat
dimanfaatkan dalam industri kosmetik untuk digunakan sebagai bahan aktif
antijerawat dalam sediaan krim, sabun muka, bedak tabur dan lainnya (Rismana
dkk, 2014).
BAB III
METODE PEMBUATAN
3.1 Bahan
Bahan-bahan
yang digunakan adalah Kulit buah manggis kering, etanol, natrium tripolifosfat
(NaTPP), asam asetat, kitosan, Propionibacterium acnes, media agar Brain
Heart Infusion (BHI), bacto agar, Follin Ciocalteu reagen, natrium karbonat,
aquades.
3.2 Alat
Alat-alat
yang digunakan adalah Homogenizer, rotary evaporator, laminar air flow,
autoklaf, inkubator anaerogen, particle size analyzer (PSA), vortex,
serta alat gelas lainnya.
3.3 Proses Pembuatan
a.
Ekstraksi
kulit buah manggis
Buah manggis diambil kulitnya,
lalu dikeringkan menggunakan sinar matahari atau oven pengering pada suhu 40OC.
Kulit manggis kering dihaluskan menggunakan alat grinder, kemudian serbuk kulit
buah manggis kering dimaserasi dengan pelarut etanol 70% selama 24 jam dengan
disertai pengadukan. Maserat kemudian disaring dan filtrat yang diperoleh
dipekatkan dengan rotary evaporator untuk mendapatkan ekstrak kental
kulit buah manggis.
b.
Pembuatan
pasta nanopartikel kitosan - ekstrak kulit buah manggis
Dilakukan
dengan cara memodifikasi metode Wu (dalam Rismana, 2014) yakni ditimbang 2 gram ekstrak kental kulit
buah manggis dalam gelas kimia 100 mL. Bahan kemudian dilarutkan dalam 50 mL
etanol : air (70:30) dan dicampurkan dengan 100 mL larutan kitosan 2 % serta
diencerkan dengan aquadest hingga 1000 mL. Kemudian secara bertahap ke dalam
campuran tersebut ditambahkan 700 mL larutan Na-TPP 0,1 % sambil disertai
pengadukan pada 12.500 rpm. Nanopartikel kitosan - ekstrak kulit buah manggis
kemudian dipisahkan dengan cara sentrifugasi.
c.
Pembuatan
bubuk nanopartikel kitosan - ekstrak kulit buah manggis
Bubuk nanopartikel kitosan –
ekstrak kulit buah manggis dipreparasi dengan metode Freeze drying
d.
Uji aktivitas antimikroba
Uji aktivitas antimikroba dilakukan
terhadap ekstrak kulit manggis, nanopartikel kitosan – esktrak kulit manggis
bentuk pasta dan bubuk serta contoh krim antiacne yang dijual di pasar
dengan mengamati adanya penghambatan pertumbuhan mikroba Propionibacterium
acnes. Mula – mula mikroba Propionibacterium acnes dikulturkan dalam
media BHI. Selanjutnya sebanyak 100 μL mikroba dimasukkan secara aseptis ke
dalam cawan petri yang telah berisi media BHI agar. Setelah media yang berisi
BHI mengeras kemudian dibuat lubang sumur dengan diameter 6 mm. Masing-masing
bahan yang akan diuji disuspensikan dalam aquades steril dengan konsentrasi
tertentu dan dimasukkan ke dalam lubang sumur sebanyak 20 μL. Setelah itu media
diinkubasi selama 2-3 hari dalam kondisi anaerobik. Adanya zona hambat menjadi
indikator yang menunjukkan aktivitas antimikroba terhadap Propionibacterium
acnes oleh sampel uji.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pembuatan
nanopartikel kitosan – ekstrak kulit manggis dilakukan dengan metode gelasi ionik,
yakni dengan menambahkan Na-TPP sebagai bahan pengikat silang dengan kitosan.
Dengan reaksi ini diharapkan ekstrak kulit manggis akan tersalut atau berada
dalam pori – pori nanopartikel kitosan yang terbentuk.
Aktivitas antimikroba nanopartikel kitosan – ekstrak kulit manggis dan
contoh formula sediaanantiacne
Skrining
antimikroba ekstrak kulit buah manggis etanol 70%, pelarut metanol sebagai kontrol
negatif, senyawa clindamycin sebagai kontrol positif, kitosan
nanopartikel, dan α- mangostin sebagai senyawa marker telah diuji aktivitasnya
terhadap penghambatan pertumbuhan Propionibacterium acnes. Kondisi
ekstraksi kulit manggis dilakukan menggunakan larutan etanol 70 % adalah merupakan
kondisi terbaik hasil optimasi proses ekstraksi Dengan proses ekstraksi
tersebut menghasilkan rendemen ekstrak sekitar 15 - 20 % besarnya aktivitas antimikroba
masing - masing.
Ekstrak etanol 70% kulit buah manggis dapat menghambat pertumbuhan Propionibacterioum acnes dengan konsentrasi minimal penghambatan sebesar 0,31%. Sedangkan kitosan nanopartikel, metanol dan clindamisin 1,25 % tidak mempunyai aktivitas daya hambat terhadap Propionibacterioum acnes. Data aktivitas antimikroba metanol sebagai kontrol negatif diperlukan karena pada awal orientasi aktivitas anti mikroba dilakukan menggunakan metode cakram kertas.
Ekstrak etanol 70% kulit buah manggis dapat menghambat pertumbuhan Propionibacterioum acnes dengan konsentrasi minimal penghambatan sebesar 0,31%. Sedangkan kitosan nanopartikel, metanol dan clindamisin 1,25 % tidak mempunyai aktivitas daya hambat terhadap Propionibacterioum acnes. Data aktivitas antimikroba metanol sebagai kontrol negatif diperlukan karena pada awal orientasi aktivitas anti mikroba dilakukan menggunakan metode cakram kertas.
Senyawa α-mangostin menunjukkan aktivitas
antimikroba yakni dapat menghambat pertumbuhan Propionibacterioum acnes
dengan konsentrasi penghambatan minimal 0,0125%. Hal ini menunjukkan bahwa
senyawa α-mangostin merupakan salah satu senyawa yang berperan dalam aktivitas
antimikroba dan dapat dijadikan sebagai senyawa marker pada ekstrak kulit buah
manggis.
Bila kita membandingkan efektivitas anti mikroba terhadap Propionibacterium acnes antara ekstrak kulit buah manggis dengan nanopartikel kitosan - ekstrak kulit buah manggis bentuk pasta dan bubuk, maka dapat dikatakan bahwa nanopartikel kitosan - ekstrak kulit buah manggis menunjukkan aktivitas penghambatan yang lebih baik. Hal ini ditunjukkan oleh konsentrasi minimal penghambatan nanopartikel kitosan - ekstrak kulit buah manggis yang mencapai 0,15 % yakni 2 kali lebih kecil dari konsentrasi minimal penghambatan ekstrak kulit manggis yang mencapai 0,31 %, sedangkan kandungan ekstraknya dalam nanopartikel tersebut jauh lebih kecil yakni hanya sekitar 50%. Hal ini diduga adanya peran nanopartikel kitosan sebagai bahan matriks pembawa dan penghantaran zat aktif (ekstrak) sehingga aktivitasnya lebih tinggi.
Bila kita membandingkan efektivitas anti mikroba terhadap Propionibacterium acnes antara ekstrak kulit buah manggis dengan nanopartikel kitosan - ekstrak kulit buah manggis bentuk pasta dan bubuk, maka dapat dikatakan bahwa nanopartikel kitosan - ekstrak kulit buah manggis menunjukkan aktivitas penghambatan yang lebih baik. Hal ini ditunjukkan oleh konsentrasi minimal penghambatan nanopartikel kitosan - ekstrak kulit buah manggis yang mencapai 0,15 % yakni 2 kali lebih kecil dari konsentrasi minimal penghambatan ekstrak kulit manggis yang mencapai 0,31 %, sedangkan kandungan ekstraknya dalam nanopartikel tersebut jauh lebih kecil yakni hanya sekitar 50%. Hal ini diduga adanya peran nanopartikel kitosan sebagai bahan matriks pembawa dan penghantaran zat aktif (ekstrak) sehingga aktivitasnya lebih tinggi.
Adanya
zona hambat jernih menunjukkan aktivitas antimikroba pada konsentrasi 0,15%; 0,31%;
0.63%; 1,25%, 2,5% dan 5% , sedangkan pada konsentrasi 0,08% tidak memberikan
aktivitas antimikroba yakni ditandai tidak adanya zona hambat yang terbentuk .
Contoh formula sediaan antiacne dibuat dengan bahan aktif nanopartikel kitosan – ekstrak kulit buah manggis dengan konsentrasi 1% tanpa pengawet, 2% tanpa pengawet dan 2% dengan pengawet , basis sediaan, clindamisin serta satu sampel sediaan antiacne yang dijual di masyarakat. Hasil uji aktivitas anti mikroba dari contoh sediaan antiacne dengan bahan aktif nanopartikel kitosan – ekstrak kulit buah manggis menunjukkan bahwa sediaan dengan konsentrasi bahan aktif 1 – 2 % mampu menghambat pertumbuhan mikroba Propionibacterium acnes setara dengan salah satu sampel sediaan antiacne yang ada di pasar yang berbahan aktif antibiotik.
Contoh formula sediaan antiacne dibuat dengan bahan aktif nanopartikel kitosan – ekstrak kulit buah manggis dengan konsentrasi 1% tanpa pengawet, 2% tanpa pengawet dan 2% dengan pengawet , basis sediaan, clindamisin serta satu sampel sediaan antiacne yang dijual di masyarakat. Hasil uji aktivitas anti mikroba dari contoh sediaan antiacne dengan bahan aktif nanopartikel kitosan – ekstrak kulit buah manggis menunjukkan bahwa sediaan dengan konsentrasi bahan aktif 1 – 2 % mampu menghambat pertumbuhan mikroba Propionibacterium acnes setara dengan salah satu sampel sediaan antiacne yang ada di pasar yang berbahan aktif antibiotik.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Bahan
aktif nanopartikel kitosan-ekstrak kulit buah manggis bentuk pasta dan bubuk
yang disintesis menggunakan reaksi gelasi ionik mampu menunjukkan aktivitas
antimikroba menghambat pertumbuhan Propionibacterium acnes. Sebagai
bahan aktif dalam contoh formula krim antiacne, nanopartikel kitosan -
ekstrak kulit buah manggis mempunyai karakteristik mudah diformulasi
dandihomogenisasi pada proses pembuatan sediaannya. Aktivitas antiacne nanopartikel
tersebut menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan ekstrak kulit
buah manggis tunggal yakni masing – masing dengan minimal konsentrasi
penghambatan 0,15% dan 0,31 %. Krim antiacne mengandung nanopartikel
kitosan – ekstrak kulit buah manggis 1 % - 2 % mampu menghambat pertumbuhan Propionibacterium
acnes setara dengan aktivitas produk antiacne dengan bahan aktif
antibiotik.
4.2 Saran
Untuk
menjamin khasiat dan keamanan krim antiacne menggunakan bahan aktif
nanopartikel kitosan – ekstrak etanol kulit buah manggis, maka masih diperlukan
pengujian stabilitas dan uji khasiat serta keamanan terhadap responden. Untuk
lebih memperluas penggunaan bahan aktif antiacne nanopartikel kitosan –
ekstrak etanol kulit buah manggis perlu dilakulan penelitian dan pengembangan
formula sediaan lainnya misalnya dalam bentuk sediaan cair, bedak, dan sabun
kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA
Anggraini D, Malik M, Susiladewi M. Formulasi
krim serbuk getah buah pepaya (Carica
papaya L) sebagai anti jerawat.
Djajadisastra J,
Mun’im A, Dessy. 2009. Formulasi gel
topikal dari ekstrak nerii folium dalam sediaan anti jerawat. Jurnal
Farmasi Indonesia Vol. 4 No. 4 Juli 2009: 210 -216
Hasyim
N, Faradiba, Baharuddin G A. 2011. Formulasi
gel sari buah belimbing wuluh (Averrhoa
bilimbi L).
Fakultas Farmasi, Universitas Hasanuddin, Makassar. Fakultas Farmasi,
Universitas Muslim Indonesia, Makassar. Majalah Farmasi dan Farmakologi, Vol.
15, No. 1 – Maret 2011, hlm. 5 – 9
Nugroho, AE. Manggis (Garcinia Mangostana L.)
: Dari Kulit Buah Yang Terbuang Hingga Menjadi Kandidat Suatu Obat. Bagian
Farmakologi dan Farmasi Klinik, Fakultas Farmasi, UNIVERSITAS GADJAH MADA.
Polii B, Palandeng H, Porong V. Analisis kandungan merkuri pada kosmetik
pemutih wajah yang dijual pedagang kaki lima di pasar 45 kota Manado.
Rismana E,
Kusumaningrum S, Rosidah I, Nizar, Yulianti E. 2013. Pengujian Stabilitas Sediaan
Antiacne Berbahan Baku Aktif Nanopartikel Kitosan/Ekstrak Manggis – Pegagan. Bul.
Penelit. Kesehat, Vol. 41, No. 4, 2013: 207 – 216.
Rismana E,
Kusumaningrum S, Bunga O, Nizar, Marhamah. 2014. Pengujian Aktivitas antiacne nanopartikel kitosan - ekstrak kulit buah
manggis (Garcinia mangostana). Media
Litbangkes Vol. 24 No. 1
Setyabudi, D A.
2012. Pemanfaatan Kulit Buah Manggis dan Teknologi Penepungannya. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan
Pasca panen Pertanian. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Volume 34 Nomor 1, 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar