Kamis, 29 Januari 2015

SEDIAAN ANTIACNE BERBAHAN AKTIF NANOPARTIKEL KITOSAN-EKSTRAK KULIT MANGGIS

Disusun oleh : Alif, Shafina, Vivi
 BAB I
PENDAHULUAN

Pemeliharaan kesehatan dan kecantikan tentunya tidak akan terlepas dari produk – produk farmasi dan kesehatan, khususnya kosmetik yang sedang tren back to nature. Oleh karena itu penggunaan bahan baku natural untuk kosmetik akan menjadi pilihan utama dimasa depan, karena khasiat dan faktor keamanannya. Beruntung Indonesia dianugrahi beranekaragam sumber daya hayati darat dan laut yang terbesar di dunia serta ribuan etnis suku bangsa yang kaya akan ilmu pengetahuan dan kearifan lokal di bidang pemanfaatan tanaman sebagai sumber obat dan kosmetik (Rismana, dkk, 2014).
 Jerawat (Acne vulgaris) merupakan penyakit kulit yang umum diderita manusia dan umumnya dapat diobati menggunakan sediaan antiacne dengan bahan aktif berupa senyawa antibiotika. Sebagai alternatif sediaan untuk mengatasi masalah antiacne dan efek negatif resistensi senyawa antibiotika maka telah dibuat suatu sediaan antiacne berbahan aktif nanopartikel kitosan-ekstrak garcinia mangostana.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1  Kosmetik dan Jerawat

Sehat dalam arti luas adalah keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial. Kulit sehat berarti kulit yang tidak menderita suatu penyakit, baik penyakit yang mengenai kulit secara langsung ataupun penyakit dalam tubuh yang secara tidak langsung mempengaruhi kesehatan kulitnya. Penampilan kulit sehat dapat dilihat dari struktur fisik kulit berupa warna, kelenturan, tebal dan tekstur kulit. Berbagai faktor yang mempengaruhi penampilan kulit sehat, misalnya umur, ras, iklim, sinar matahari serta kehamilan. Kosmetik telah menjadi bagian kehidupan manusia sejak zaman dahulu. Kosmetik berasal dari kata Yunani “kosmein” artinya berhias. Kosmetik digunakan secara luas baik untuk kecantikan maupun untuk kesehatan. Masyarakat di zaman Mesir Kuno sudah memanfaatkan merkuri pada abad ke 18. Seiring berjalannya waktu, pemakaian kosmetik bertambah yaitu untuk mempercantik diri, mengubah rupa, menutupi kekurangan dan menambah daya tarik dengan keharuman kulit. Sesuai dengan perkembangan zaman, bentuk kosmetik semakin praktis dan mudah digunakan. Bahan yang dipakai dalam kosmetik, dahulu diramu dari bahan-bahan alami yang terdapat disekitarnya, tetapi sekarang kosmetik dibuat manusia tidak hanya dari bahan alami tetapi juga bahan sintetik untuk maksud meningkatkan kecantikan. Keinginan manusia untuk menjadi cantik ataupun tampan adalah faktor utama yang mendorong manusia menggunakan kosmetik (Polii, dkk).
Pengertian kosmetik dan bentuk-bentuk kosmetik menurut beberapa ahli kosmetologi dan peraturan antara lain : (i) menurut Jellinex, kosmetologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari hukum-hukum kimia, fisika, biologi dan mikrobiologi tentang pembuatan, penyimpanan dan penggunaan bahan kosmetika, (ii) Menurut Peraturan Menteri Kesehatan R.I. No.220/Men Kes/Per/IX/76, kosmetika adalah bahan atau campuran bahan untuk digosokkan, dilekatkan, dituangkan, dipercikkan atau disemprotkan, dimasukkan dan dipergunakan pada badan manusia dengan maksud untuk membersihkan, memelihara, menambah daya tarik dan mengubah rupa dan tidak termasuk golongan obat. Zat tersebut tidak boleh mengganggu faal kulit atau kesehatan tubuh secara keseluruhan, (iii) Lubowe mengemukakan istilah Cosmedics disusul oleh Faust dengan istilah Medicated Cosmetics untuk bentuk gabungan dari kosmetika dan obat. Cosmedics adalah kosmetika yang ke dalamnya ditambahkan bahan-bahan aktif tertentu seperti zat-zat anti bakteri atau jasad renik lainnya, anti jerawat, anti gatal, anti produk keringat, anti ketombe dan lain-lain dengan tujuan profilaksis, desinfektan, terapi dan lain-lain, (iv) kosmetika hipoalergik adalah kosmetika yang di dalamnya tidak mengandung zat-zat yang dapat menyebabkan reaksi iritasi dan reaksi sensitasi. Kosmetika jenis ini bila dapat terwujud akan merupakan kosmetika yang lebih aman untuk kesehatan kulit, (v) kosmetika tradisional adalah kosmetika yang terdiri dari bahan-bahan yang berasal dari alam dan diolah secara tradisional. Di samping itu, terdapat kosmetika semi-tradisional, yaitu kosmetika tradisional yang pengolahannya dilakukan secara modern dengan mencampurkan zat-zat kimia sintetik ke sediaannya. Secara umum dari definisi tersebut diatas jelas menunjukkan bahwa kosmetika bukan satu obat yang dipakai untuk diagnosis, pengobatan maupun pencegahan penyakit (Rismana dkk, 2014).
Jerawat (acne vulgaris) merupakan penyakit kulit yang banyak dialami oleh remaja dan umumnya diakibatkan oleh adanya papula folikuler non–inflamasi, nodul, pustule dan radang papula. Faktor – faktor penyebab terjadinya jerawat diantaranya adalah karena meningkatnya produksi sebum, penyumbatan saluran pilosebasea, kolonisasi bakteri di saluran pilosebasea serta proses inflamasi (Chomnawang dalam rismana dkk, 2013). Secara alami dalam kulit normal terkandung beberapa bakteri penyebab jerawat seperti Propionibacterium acnes, Propionibacterium granulosum, Staphylococcus epidermidis serta Malassezia furfur, dan jika kondisi memungkinkan bakteri tersebut dapat berproliferasi secara cepat dan memicu tumbuhnya jerawat (Chomnawang dalam rismana dkk, 2014). Senyawa kimia jenis antibiotik seperti clindamycin dan tetracyclin telah lama digunakan untuk mengatasi jerawat, tetapi terkadang ada efek samping berupa iritasi kulit dan gangguan kesehatan lainnya sehingga penggunaanya dibatasi. Di sisi lain dengan semakin meningkatnya penggunaan bahan alam dalam industri obat dan farmasi, maka penggunaan tanaman obat juga secara intensif diteliti guna mencari bahan alternatif yang mempunyai aktivitas antibakteri, khususnya terhadap Propionibacterium acnes (Rismana dkk, 2014).
Akhir-akhir ini para ahli mulai berpaling untuk mencari obat jerawat dari bahan alam. Untuk optimasi pengobatan terhadap jerawat, seyogyanya bentuk sediaan yang dipilih harus dapat menjadi obat yang dapat dijadikan sebagai bahan pembantu tidak boleh menimbulkan kecenderungan untuk munculnya jerawat-jerawat baru (Djajadisastra, 2009). Terdapat beberapa penelitian yang telah menggunakan bahan alam yang dapat digunakan sebagai obat anti jerawat. Salah satunya adalah ekstrak Daun Nerium oleander (Djajadisastra, 2009),  getah buah pepaya (Anggraini dkk), sari buah belimbing wuluh (Hasyim, 2011) dan ekstrak kulit manggis (rismana dkk, 2014).

2.2  Manggis

Manggis (Garcinia mangostana) adalah tanaman tropis yang banyak ditemukan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Di Thailand, kulit manggis telah digunakan sebagai obat untuk penyakit infeksi kulit, obat luka dan diare. Senyawa utama dari manggis adalah derivat xanthon dan telah telah diketahui mempunyai aktivitas antifungal (Gopalakrishnan dalam rismana dkk, 2014), antimikroba (Suksamrarn dalam Rismana dkk, 2014), antioksidan (Moongkandi dalam Pasaribu, 2012) dan sitotoksik. Bagian tanaman yang secara tradisional sering dipakai dalam pengobatan tradisional (diare, disentri, eksim dan penyakit kulit lainnya) adalah kulit buah. Kulit manggis yang dahulu hanya dibuang saja ternyata menyimpan sebuah harapan untuk dikembangkan sebagai kandidat obat (Nugroho). Kulit buah manggis juga mengandung senyawa α-mangostin dan β-mangostin. Aktivitas biologi α-mangostin antara lain sebagai antagonis kompetitif dari reseptor-H1 histamin, antibakteri terhadap Helicobacter pylori, antiinflammasi, antimikroba terhadap Staphylococcus aureus, antioksidan dan antiacne (Rismana dkk, 2014).

Kulit buah manggis banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku produk pangan. Secara turun-temurun, kulit buah manggis dimanfaatkan untuk mengobati atau mencegah diare, disentri, dan sariawan. Kulit buah manggis bermanfaat bagi kesehatan karena mengandung antosianin, tanin, senyawa fenol/polifenol, epikatekin, dan xanthone . Xanthone merupakan senyawa organik dan mempunyai banyak turunan di alam dan memiliki aktivitas antioksidan. Kulit buah manggis mengandung 14 jenis turunan xanthone. Alfa-mangostin merupakan turunan xanthone yang banyak terdapat pada kulit dan buah manggis. Alfa-mangostin memiliki kemampuan menekan pembentukan senyawa karsinogen pada kolon. Dengan demikian, xanthone yang terdapat pada kulit buah manggis bersifat antioksidan, antidiabetik, antikanker, antiimflammatory, hepatoprotective, immuno-modulation, aromatase inhibitor, antibakteri, juga bersifat fungsional lainnya. Antosianin bermanfaat sebagai pewarna alami maupun antioksidan. Antosianin memiliki kemampuan sebagai antioksidan dan dapat mencegah penyakit neuronal, kardiovaskuler, kanker, dan diabetes. Kulit buah manggis mengandung vitamin B1, B2, B6, dan C, serta senyawa pektin, tanin, dan resin. Senyawa-senyawa tersebut sering dimanfaatkan sebagai bahan penyamak kulit dan zat pewarna hitam untuk makanan dan industri tekstil. Sementara kulit buah manggis yang mengandung getah kuning dimanfaatkan sebagai bahan baku cat dan insektisida. Tanin terdiri atas berbagai asam fenolat yang mempunyai aktivitas antioksidan, menghambat pertumbuhan tumor, dan menghambat enzim seperti reverse transkriptase dan DNA topoisomerase. Tanin dengan protein membentuk senyawa kompleks dan menyebabkan pengendapan protein. Fungsi tanin bagi kesehatan antara lain adalah sebagai antioksidan dan relaksasi, yang secara klinis memiliki kemampuan sebagai antidiare, hemostatik, dan antihemorod (Setyabudi, 2012).

2.3  Kitosan

Kitosan merupakan polisakarida alam [β(1→4) glukosamin (2-amino-2-deoksi-d-glukosa) N-asetil-d-glukosamin (2-asetamido-2-deoksi-dglukosa)] yang mulai banyak diaplikasikan dalam industri farmasi, pangan dan kesehatan. Kitosan mempunyai beberapa sifat yang menguntungkan yaitu bersifat anti mikroba, wound healing, tidak beracun, murah, biokompatibel, dapat dibiodegradasi, serta larut air. Dalam bentuk mikro/nanopartikel kitosan mempunyai banyak keunggulan yakni tidak toksik, stabil selama penggunaan, luas permukaan yang tinggi, serta dapat dijadikan matriks untuk berbagai jenis obat dan ekstrak tanaman. Oleh karena itu kitosan berpotensi untuk digunakan sebagai bahan eksipien atau pembawa sekaligus bahan aktif dalam suatu sediaan topikal antiacne (Rismana dkk, 2014).
Nanopartikel merupakan bahan dengan ukuran partikel pada skala nanometer. Beberapa bahan nanopartikel dengan ukuran partikel di atas 100 nm telah berhasil disintesis untuk produk yang berasal dari bahan alam antara lain untuk kurkumin, paclitaxel dan praziquantel dengan ukuran partikel masing – masing adalah 450 nm, 147,7 nm, dan  > 200 nm, sehingga nanopartikel dapat juga didefinisikan sebagai sistem koloid submikronik (<1 μm). Beberapa penelitian pembuatan material nano juga dilakukan antara lain oleh Dustgani (dalam Rismana dkk, 2014) melakukan penelitian tentang pembuatan nanopartikel kitosan sebagai matriks penghantar untuk dexametason, Wu (dalam Rismana dkk, 2014) melakukan penelitian tentang pembuatan nanopartikel kitosan sebagai matriks penghantar untuk glycyrrhizinate. Kim (dalam Rismana dkk, 2014) melakukan penelitian tentang pembuatan nanopartikel kitosan sebagai matriks penghantar retinol. Metode yang digunakan adalah dengan meneteskan vitamin A yang telah didispersikan dalam etanol ke dalam larutan kitosan dalam air deionisasi di dalam ultrasonikator yang berisikan es. Penelitian ini menggunakan kitosan larut air sehingga tidak diperlukan penambahan asam asetat untuk melarutkan kitosan. Nanopartikel kitosan-vitamin A yang terbentuk memiliki ukuran antara 80-208 nm. Wang (dalam Rismana dkk, 2014) melakukan penelitian tentang pembuatan nanopartikel kitosan sebagai peningkat absorpsi sediaan nasal dan target organ otak untuk estradiol, nanopartikel yang terbentuk memiliki distribusi ukuran 260 nm.
Aplikasi teknologi nano dalam bidang farmasi mempunyai berbagai keunggulan antara lain dapat meningkatkan kelarutan senyawa, mengurangi dosis pengobatan dan meningkatkan absorbsi. Oleh karena itu, bahan nanopartikel banyak digunakan pada sistem penghantaran obat terbaru pada berbagai bentuk sediaan kosmetik dan dermatologikal. Sifat pembawa bahan nanopartikel mempunyai berbagai keuntungan seperti mencegah hidrasi kulit, meningkatkan efek absorpsi, meningkatkan penetrasi zat aktif dan bersifat lepas terkendali. Dengan sentuhan teknologi nano diharapkan zat aktif akan mampu menembus lapisan dermis dari kulit. Pemilihan produk perawatan wajah dan kosmetik yang baik harus mempunyai kemampuan menembus lapisan kulit sampai ke lapisan dermis, karena pada lapisan ini banyak pembuluh darah yang memberi nutrisi dan menjaga keseimbangan proses regenerasi kulit. Kosmetik yang hanya mampu bekerja di lapisan epidermis tidak banyak memperbaiki keadaan kulit wajah, karena bekerja di lapisan sel kulit mati yang sudah pasti akan terangkat dalam hitungan hari. Selain itu lapisan kulit terutama lapisan tanduk yang merupakan bagian dari lapisan epidermis bersifat selektif dalam memilih senyawa-senyawa tertentu untuk dapat masuk ke lapisan lebih dalam atau lapisan dermis, sehingga tidak semua produk perawatan wajah memiliki senyawa yang mampu menembus lapisan ini. Adapun tujuannya adalah untuk mengembangkan bahan aktif antiacne dengan ukuran nano yang berasal dari bahan alam, khususnya kulit buah manggis dan kitosan. Diharapkan penyediaan dan penggunaan nanopartikel kitosan - ekstrak kulit buah manggis yang mensinergiskan efek wound healing dari kitosan serta efek antibakteri dan antiinflamasi dari kulit buah manggis yang diproses menggunakan teknologi nano akan memberikan efek penyembuhan jerawat lebih baik. Selain itu bahan aktif nanopartikel ini diharapkan dapat dimanfaatkan dalam industri kosmetik untuk digunakan sebagai bahan aktif antijerawat dalam sediaan krim, sabun muka, bedak tabur dan lainnya (Rismana dkk, 2014).

BAB III
METODE PEMBUATAN

3.1  Bahan
Bahan-bahan yang digunakan adalah Kulit buah manggis kering, etanol, natrium tripolifosfat (NaTPP), asam asetat, kitosan, Propionibacterium acnes, media agar Brain Heart Infusion (BHI), bacto agar, Follin Ciocalteu reagen, natrium karbonat, aquades.

3.2  Alat
Alat-alat yang digunakan adalah Homogenizer, rotary evaporator, laminar air flow, autoklaf, inkubator anaerogen, particle size analyzer (PSA), vortex, serta alat gelas lainnya.

3.3  Proses Pembuatan
a.       Ekstraksi kulit buah manggis
Buah manggis diambil kulitnya, lalu dikeringkan menggunakan sinar matahari atau oven pengering pada suhu 40OC. Kulit manggis kering dihaluskan menggunakan alat grinder, kemudian serbuk kulit buah manggis kering dimaserasi dengan pelarut etanol 70% selama 24 jam dengan disertai pengadukan. Maserat kemudian disaring dan filtrat yang diperoleh dipekatkan dengan rotary evaporator untuk mendapatkan ekstrak kental kulit buah manggis.
b.      Pembuatan pasta nanopartikel kitosan - ekstrak kulit buah manggis
Dilakukan dengan cara memodifikasi metode Wu (dalam Rismana, 2014)  yakni ditimbang 2 gram ekstrak kental kulit buah manggis dalam gelas kimia 100 mL. Bahan kemudian dilarutkan dalam 50 mL etanol : air (70:30) dan dicampurkan dengan 100 mL larutan kitosan 2 % serta diencerkan dengan aquadest hingga 1000 mL. Kemudian secara bertahap ke dalam campuran tersebut ditambahkan 700 mL larutan Na-TPP 0,1 % sambil disertai pengadukan pada 12.500 rpm. Nanopartikel kitosan - ekstrak kulit buah manggis kemudian dipisahkan dengan cara sentrifugasi.
c.       Pembuatan bubuk nanopartikel kitosan - ekstrak kulit buah manggis
Bubuk nanopartikel kitosan – ekstrak kulit buah manggis dipreparasi dengan metode Freeze drying
d.      Uji aktivitas antimikroba
Uji aktivitas antimikroba dilakukan terhadap ekstrak kulit manggis, nanopartikel kitosan – esktrak kulit manggis bentuk pasta dan bubuk serta contoh krim antiacne yang dijual di pasar dengan mengamati adanya penghambatan pertumbuhan mikroba Propionibacterium acnes. Mula – mula mikroba Propionibacterium acnes dikulturkan dalam media BHI. Selanjutnya sebanyak 100 μL mikroba dimasukkan secara aseptis ke dalam cawan petri yang telah berisi media BHI agar. Setelah media yang berisi BHI mengeras kemudian dibuat lubang sumur dengan diameter 6 mm. Masing-masing bahan yang akan diuji disuspensikan dalam aquades steril dengan konsentrasi tertentu dan dimasukkan ke dalam lubang sumur sebanyak 20 μL. Setelah itu media diinkubasi selama 2-3 hari dalam kondisi anaerobik. Adanya zona hambat menjadi indikator yang menunjukkan aktivitas antimikroba terhadap Propionibacterium acnes oleh sampel uji.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

            Pembuatan nanopartikel kitosan – ekstrak kulit manggis dilakukan dengan metode gelasi ionik, yakni dengan menambahkan Na-TPP sebagai bahan pengikat silang dengan kitosan. Dengan reaksi ini diharapkan ekstrak kulit manggis akan tersalut atau berada dalam pori – pori nanopartikel kitosan yang terbentuk. 

Aktivitas antimikroba nanopartikel kitosan – ekstrak kulit manggis dan contoh formula sediaanantiacne

Skrining antimikroba ekstrak kulit buah manggis etanol 70%, pelarut metanol sebagai kontrol negatif, senyawa clindamycin sebagai kontrol positif, kitosan nanopartikel, dan α- mangostin sebagai senyawa marker telah diuji aktivitasnya terhadap penghambatan pertumbuhan Propionibacterium acnes. Kondisi ekstraksi kulit manggis dilakukan menggunakan larutan etanol 70 % adalah merupakan kondisi terbaik hasil optimasi proses ekstraksi Dengan proses ekstraksi tersebut menghasilkan rendemen ekstrak sekitar 15 - 20 % besarnya aktivitas antimikroba masing - masing.

Ekstrak etanol 70% kulit buah manggis dapat menghambat pertumbuhan Propionibacterioum acnes dengan konsentrasi minimal penghambatan sebesar 0,31%. Sedangkan kitosan nanopartikel, metanol dan clindamisin 1,25 % tidak mempunyai aktivitas daya hambat terhadap Propionibacterioum acnes. Data aktivitas antimikroba metanol sebagai kontrol negatif diperlukan karena pada awal orientasi aktivitas anti mikroba dilakukan menggunakan metode cakram kertas.

Senyawa α-mangostin menunjukkan aktivitas antimikroba yakni dapat menghambat pertumbuhan Propionibacterioum acnes dengan konsentrasi penghambatan minimal 0,0125%. Hal ini menunjukkan bahwa senyawa α-mangostin merupakan salah satu senyawa yang berperan dalam aktivitas antimikroba dan dapat dijadikan sebagai senyawa marker pada ekstrak kulit buah manggis.

Bila kita membandingkan efektivitas anti mikroba terhadap Propionibacterium acnes antara ekstrak kulit buah manggis dengan nanopartikel kitosan - ekstrak kulit buah manggis bentuk pasta dan bubuk, maka dapat dikatakan bahwa nanopartikel kitosan - ekstrak kulit buah manggis menunjukkan aktivitas penghambatan yang lebih baik. Hal ini ditunjukkan oleh konsentrasi minimal penghambatan nanopartikel kitosan - ekstrak kulit buah manggis yang mencapai 0,15 % yakni 2 kali lebih kecil dari konsentrasi minimal penghambatan ekstrak kulit manggis yang mencapai 0,31 %, sedangkan kandungan ekstraknya dalam nanopartikel tersebut jauh lebih kecil yakni hanya sekitar 50%. Hal ini diduga adanya peran nanopartikel kitosan sebagai bahan matriks pembawa dan penghantaran zat aktif (ekstrak) sehingga aktivitasnya lebih tinggi.

Adanya zona hambat jernih menunjukkan aktivitas antimikroba pada konsentrasi 0,15%; 0,31%; 0.63%; 1,25%, 2,5% dan 5% , sedangkan pada konsentrasi 0,08% tidak memberikan aktivitas antimikroba yakni ditandai tidak adanya zona hambat yang terbentuk .

Contoh formula sediaan antiacne dibuat dengan bahan aktif nanopartikel kitosan – ekstrak kulit buah manggis dengan konsentrasi 1% tanpa pengawet, 2% tanpa pengawet dan 2% dengan pengawet , basis sediaan, clindamisin serta satu sampel sediaan antiacne yang dijual di masyarakat. Hasil uji aktivitas anti mikroba dari contoh sediaan antiacne dengan bahan aktif nanopartikel kitosan – ekstrak kulit buah manggis menunjukkan bahwa sediaan dengan konsentrasi bahan aktif 1 – 2 % mampu menghambat pertumbuhan mikroba Propionibacterium acnes setara dengan salah satu sampel sediaan antiacne yang ada di pasar yang berbahan aktif antibiotik.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1  Kesimpulan
Bahan aktif nanopartikel kitosan-ekstrak kulit buah manggis bentuk pasta dan bubuk yang disintesis menggunakan reaksi gelasi ionik mampu menunjukkan aktivitas antimikroba menghambat pertumbuhan Propionibacterium acnes. Sebagai bahan aktif dalam contoh formula krim antiacne, nanopartikel kitosan - ekstrak kulit buah manggis mempunyai karakteristik mudah diformulasi dandihomogenisasi pada proses pembuatan sediaannya. Aktivitas antiacne nanopartikel tersebut menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan ekstrak kulit buah manggis tunggal yakni masing – masing dengan minimal konsentrasi penghambatan 0,15% dan 0,31 %. Krim antiacne mengandung nanopartikel kitosan – ekstrak kulit buah manggis 1 % - 2 % mampu menghambat pertumbuhan Propionibacterium acnes setara dengan aktivitas produk antiacne dengan bahan aktif antibiotik.

4.2  Saran
Untuk menjamin khasiat dan keamanan krim antiacne menggunakan bahan aktif nanopartikel kitosan – ekstrak etanol kulit buah manggis, maka masih diperlukan pengujian stabilitas dan uji khasiat serta keamanan terhadap responden. Untuk lebih memperluas penggunaan bahan aktif antiacne nanopartikel kitosan – ekstrak etanol kulit buah manggis perlu dilakulan penelitian dan pengembangan formula sediaan lainnya misalnya dalam bentuk sediaan cair, bedak, dan sabun kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA

Anggraini D, Malik M, Susiladewi M. Formulasi krim serbuk getah buah pepaya (Carica papaya L) sebagai anti jerawat.

Djajadisastra J, Mun’im A, Dessy. 2009. Formulasi gel topikal dari ekstrak nerii folium dalam sediaan anti jerawat. Jurnal Farmasi Indonesia Vol. 4 No. 4 Juli 2009: 210 -216

Hasyim N, Faradiba, Baharuddin G A. 2011. Formulasi gel sari buah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L). Fakultas Farmasi, Universitas Hasanuddin, Makassar. Fakultas Farmasi, Universitas Muslim Indonesia, Makassar.  Majalah Farmasi dan Farmakologi, Vol. 15, No. 1 – Maret 2011, hlm. 5 – 9

Nugroho, AE. Manggis (Garcinia Mangostana L.) : Dari Kulit Buah Yang Terbuang Hingga Menjadi Kandidat Suatu Obat. Bagian Farmakologi dan Farmasi Klinik, Fakultas Farmasi, UNIVERSITAS GADJAH MADA.

Polii B, Palandeng H, Porong V. Analisis kandungan merkuri pada kosmetik pemutih wajah yang dijual pedagang kaki lima di pasar 45 kota Manado.

Rismana E, Kusumaningrum S, Rosidah I, Nizar, Yulianti E. 2013. Pengujian Stabilitas Sediaan Antiacne Berbahan Baku Aktif Nanopartikel Kitosan/Ekstrak Manggis – Pegagan. Bul. Penelit. Kesehat, Vol. 41, No. 4, 2013: 207 – 216.

Rismana E, Kusumaningrum S, Bunga O, Nizar, Marhamah. 2014. Pengujian Aktivitas antiacne nanopartikel kitosan - ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana). Media Litbangkes Vol. 24 No. 1

Setyabudi, D A. 2012. Pemanfaatan Kulit Buah Manggis dan Teknologi Penepungannya. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pasca panen Pertanian. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Volume 34 Nomor 1, 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar